Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Zaenab Al Ghazali, Ayahnya Merupakan Salah Satu Ulama Al Azhar

zaenab al ghazali

Nama lengkapnya adalah Zaenab Muhammad al Ghazali al Jibili. Ia lahir pada tahun 1917 Masehi di desa Mayyet Ghamar di sebuah propinsi yang bernama Daqhiliyyah di Mesir. Ayahnya merupakan salah satu ulama Al Azhar. Ia belajar di sebuah madrasah di kampung halamannya sendiri. Ia belajar ilmu-ilmu agama di bawah asuhan para ulama-ulama besar al Azhar. Diantara ilmu-ilmu yang ia pelajari adalah Ilmu Hadits, Tafsir, dan Fikih.

Ia merupakan anggota termuda dari perkumpulan wanita-wanita mesir dibawah pimpinan Hadi Sya'rawi. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari perkumpulan tersebut di saat mengetahui adanya prilaku-prilaku yang tak selaras dengan ajaran Islam. Ia kemudian mendirikan komunitas wanita-wanita muslim pada tahun 1937 di Kairo. Umurnya pada saat itu masih sekitar 19 tahun.

Adapun tujuan mendirikan komunitas itu agar diterapkannya syari'at Islam dan didirikannya kekhalifahan Islam. Pada tiap-tiap tahunnya ia selalu mengirim 340-400 delegasi untuk melakukan ibadah Haji. Ia sendiri yang memimpin delegasi-delegasi itu.

Tujuan pengiriman delegasi-delegasi itu adalah untuk menemui sejumlah jamaah haji yang berasal dari penjuru dunia. Delegasi-delegsi itu selalu membahas masalah-masalah pokok dalam Islam dengan para jamaah haji tersebut. Isu-isu yang selalu mereka kembangkan adalah seputar perbaikan umat Islam, mengembalikan kembali kekhalifahan Islam, dan sekaligus bagaimana membangkitkan kembali masa ke emasan Islam.

Ia bertemu dengan imam Syahid Hasan al Bana pada tahun 1941 Masehi. Hasan al Bana membai'at Zaenab untuk turut serta melakukan perjuangan bersama Ihwan Muslimin. Sebab, tujuan dan landasan perjuangan mereka adalah sama. Dan pada tahun 1980, ia mendirikan majalah perkumpulan wanita-wanita muslim (Sayyidah Muslimah), dan dibubarkan pada tahun 1985. Ia juga memimpin salah satu devisi yang ada dalam organisasi Ikhwan Muslimin. Ia serta merta membantu keluarga Ikhwan Muslimin di saat kelompok ini di intimidasi oleh pemerintah pada tahun 1954. Dan pada tahun 1964, perkumpulannya tersebut dibubarkan oleh tentara dengan menyita harta dan kepemilikan mereka.

Pada tahun 1965, ia ditangkap oleh pemerintah dengan tuduhan terlibat dalam sebuah kasus yang ada pada diri Ikhwan di saat bersitegag dengan pemerintah. Pemerintah menutut kepada parlemen menjatuhi hukumi mati kepada Zaenab. Ia sebelum dipastikan sebagai tawanan perang, telah menerima berbagai macam siksaan dipenjara.

Ia akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun, dan diharuskan melakukan kerja berat selama menjalani masa hukuman. Ia menulis kesengsaraannya itu dalam sebuah buku yang berjudul “Ayyam min Hayyati" (hari-hari dalam kehidupanku). 

Melalui bantuan raja Faisal dari Arab Saudi, sekitar pada tahun tujuh puluhan, keluarlah ketetapan dari pemerintahan Anwar Sadat untuk membebaskan Zaenab dari penjara. Ia telah diampuni oleh pemerintah atas segala perbuatannya yang dianggap merugikan negara.Ini terjadi pada bulan Agustus tahun 1971, yaitu setelah menjalani masa-masa dipenjara selama 6 tahun. 

Setelah keluar dari penjara, ia dianjurkan untuk menghidupkan kembali majalah Sayyidat Muslimah dengan menjadikan dirinya sebagai direkturnya. Ia akan menerima kucuran dana sebanyak 300 Pouns perbulan, dengan catatan harus bersedia mengusung kepentingan-kepentingan pihak donatur. Ia serentak menolak, dan mengatakan bahwa mustahil baginya mendirikan sebuah penerbitan untuk mengusung pemikiran-pemikiran sekuler. Ia mengatakan pula bahwa penerbitan ini didirikan untuk kepentingan Islam dan bukan untuk kesesatan.

Setelah keluar dari penjara ia ingin meneruskan perannya dalam bidang da'wah. Ia melalui melakukan pengajian-pengajian dan seminar- seminar di Mesir sediri maupun diluarnya. 

Adapun negara-negara yang pernah ia kunjungi adalah Arab Saudi, Kuwait,Uni Emirat Arab, Yordania, al Jazair, Turki, Sudan,India, Prancis, Amerika, Kanada, Spanyol, dan lain sebagainya.

Suaminya yang berperan sebagai seorang ekonom yang bernama Haji Muhammad Salim meninggal dunia pada tahun 1966 Masehi. Yaitu di saat Zaenab masih berada di dalam penjara. Ia tak dikarunia seorang anak pun. Namun, ia menganggap bahwa semua anak-anak Islam merupakan anak-anaknya juga.

Ia sangat memfigurkan seorang Hasan al Bana. Ia menganggap bahwa di antara orang-orang yang telah mempengaruhi kehidupannya, semisal Hasan al Hudhaibi,Umar al Tilmisani, Hamid abu Nasir,dan Hasan al Bana lah yang paling banyak berpengaruh pada pembentukan jiwa dan sikap hidupnya. Diantara karya-karya tulisnya yang terkenal adalah “Ayyam min Khayati",Nahwa Ba'su Jadid,Maa Kitabullah,Muskilatu Sabab wa Fatayat."

insyouf.com
insyouf.com Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar untuk "Kisah Zaenab Al Ghazali, Ayahnya Merupakan Salah Satu Ulama Al Azhar"