Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Rabi'ah Adawiyah, Wanita Shalehah

rabiah adawiyah

Nama lengkapnya adalah Rabi'ah binti Ismail bin Hasan bin Zaid bin Ali bin Abi Thalib. Ia senantiasa dimintai sebuah fatwa dari beberapa pembesar-pembesar sufi masanya. Rasa ketakutannya kepada Allah telah menjadikannya sebagai seorang wanita yang senantiasa menangis. Ini tampak sekali di saat ia mendengar seorang laki-laki membaca ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan Neraka dihadapannya, ia langsung berteriak dan tersungkur kerana rasa ketakutannya terhadap api neraka. Ia senantiasa melakukan shalat malam secara penuh. Ketika fajar mulai menjelang, ia tidur sebentar ditempat shalatnya hingga pagi tiba.

Pada suatu waktu, datang seorang laki-laki memberikan uang sebanyak 40 dinar kepadanya. Ia berkata kepada Rabiah “gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan-keperluanmu." Medengar perkataan itu, Rabiah Adawiyah menangis. Ia menengadahkan mukanya ke langit, seraya berkata"Tuhan telah mengetahui, bahwa aku malu meminta barang-barang duniawi kepada-Nya, padahal Ia lah yang memiliki dunia ini. Oleh kerena itu, bagaimana mungkin aku akan meminta duniawi kepada orang yang sebenarnya tak memiliki duniawi itu?.

Air matanya selalu bercucuran di saat mengingat hari kematian. Ia laksana disambar petir di saat teringat hari kematian itu. Bahkan ia selalu merasa kaget dan merasa ketakutan sekali di saat terjaga dari tidurnya. Ia seraya berkata “wahai jiwaku!, berapa lama engkau tertidur dan berapa lama pula engkau dalam keadaan terjaga?. Aku benar-benar merasa ketakutan di saat engkau (jiwa) tertidur dan tak bangun lagi, sehingga yang ada dihadapanmu hanyalah hari kebangkitan."

Salah satu dari kata-kata bijaknya adalah: “sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau selalu menyembunyikan kejelekanmu." Ia berkata: "wahai Tuhanku, ampunilah penyelewenganku selama ini, ampunilah aku!. Ia meninggal dunia di Baitul Muqdis pada tahun 135 Hijriah dengan Umur lebih dari 80 tahun. Ia dikafankan di dalam jubahnya sendiri yang berasal dari ayaman rambut, dan tutup dari kain bulu yang senantiasa ia gunakan pada saat shalat malam. Ini semua adalah karena wasiat yang ia berikan kepada pembantunya agar ia dikafankan semacam itu. Ia juga berwasiat agar ia dimakamkan di Baitul Muqdis.

Tidaklah benar sekali jika perkataan “aku tidak menyembahmu lantaran mengharap surga-Mu dan takut atas neraka-Mu, melainkan hanya karena kecintaanku kepada-Mu",berasal dari perkataan Rabi'ah Adawiyah. Dan sangat tidak benar sekali pula, jika tasawuf Rabi'ah Adawiyah identik dengan nilai-nilai yang dianggap sesat dalam dunia sufi. Semisal, kerinduan terhadap Tuhan, Fana'(peleburan diri seorang hamba dengan Tuhannya), persaksian langsung terhadap Tuhan, dan lain sebagainya.

insyouf.com
insyouf.com Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar untuk "Kisah Rabi'ah Adawiyah, Wanita Shalehah"