Tahukah Kamu? Ternyata Orang yang Sering Berbicara Kasar Memiliki Mental Health yang Buruk, dan Berikut Solusinya


Tahukah Kamu? Ternyata Orang yang Sering Berbicara Kasar Juga Punya Mental Health yang Buruk, berikut penjelasan dan solusinya


Kata-kata kasar kini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Berbicara kasar terasa begitu normal. Yang membuat khawatir adalah generasi kita malah semakin comfortable sama bahasa yang toxic ini.
Gen-Z lebih toleran terhadap bahasa kasar dan awareness kita soal dampak negatifnya justru lebih rendah.

Platform media sosial punya andil besar dalam fenomena ini. Algoritma TikTok, Instagram Reels, dan Twitter secara tidak langsung mendidik kita untuk terbiasa dengan konten yang kontroversial karena engagement-nya yang tinggi.

Kata-kata kasar juga sering kali dikemas sebagai bentuk kejujuran atau humor sarkasme yang membuat kita menjadi terdoktrin kalau ngomong apa adanya tanpa filter itu keren, padahal keren yang toxic ya tetap aja toxic.


Konten kreator yang ngomong blak-blakan dengan kata kasar malah dianggap real dan relatable yang akhirnya membuat kita menormalisasi perilaku komunikasi yang destruktif.

Media sosial juga menciptakan echo chamber di mana kita dikelilingi oleh konten sejenis yang memperkuat keyakinan bahwa berkata kasar itu wajar.

Saat timeline media sosial dipenuhi video yang menggunakan kata kasar sebagai hiburan, otak secara tidak sadar akan menganggapnya sebagai pola komunikasi yang normal.


Fenomena ini juga diperkuat dengan peer pressure dan social conformity. Saat teman-teman di sekeliling kita berkata kasar, ada tekanan untuk fit in dengan gaya komunikasi yang sama.

Takut dianggap sok suci kalau ngomong terlalu proper, akhirnya kita ikut-ikutan mengadopsi kata-kata yang sebetulnya nggak nyaman didengar.

Otak Dirusak Sama Kata Kasar

Otak Kita Panic Mode
Setiap kali kamu ngomong kasar atau dengar kata-kata kasar, otak kamu otomatis switch ke mode survival. Sistem limbik, bagian otak yang mengatur emosi mengaktifkan respons fight-or-flight. Artinya apa? Tubuh kamu akan memproduksi hormon kortisol dan adrenalin.
Hormon stres ini kalau terus diproduksi akan membuat tubuhmu dalam kondisi siaga terus. Coba tanyakan pada dirimu sendiri, berapa kali kamu ngomong atau denger kata kasar dalam sehari? Nah segitu juga tubuh kamu nge-release hormon stres. Capek kan otaknya?
Dari sisi psikologis menunjukkan kalau paparan berulang terhadap bahasa kasar bisa mengubah struktur jaringan neural di otak. Sederhananya kamu lagi melatih otak kamu buat jadi lebih toxic.

Dampak Mental Health
Harvard Medical School punya data kalau orang yang sering berkata kasar memiliki risiko kecemasan dan depresi yang lebih tinggi.

Lalu, LAZnas PHR (2024) bilang kalau reputasi seseorang bisa hancur gara-gara satu kata kasar, apalagi di era digital yang bisa menyimpan rekam jejak abadi.

Satu tweet toxic, satu story Instagram yang tidak pantas, satu video TikTok yang out of line. Boom, jejak digital kamu tercemar selamanya.

Efek Domino ke Hubungan Sosial
Data dari Journal of Social and Personal Relationships (2023) menunjukkan kalau hubungan pertemanan dengan komunikasi kasar memiliki tingkat ketahanan yang lebih rendah dibanding yang komunikasinya santun.


Siapa sih yang mau lama-lama sama orang yang komunikasinya bikin capek mental? Lama-lama orang bakal merasa nggak nyaman dan perlahan menjauh dari kamu.

Di lingkungan kerja atau sekolah juga sama. Data menunjukkan kalau lingkungan dengan komunikasi kasar mengalami penurunan produktivitas gara-gara konflik interpersonal yang nggak terselesaikan.

Kolaborasi jadi susah, muncul trust issues, dan orang jadi tidak ingin membagikan ide mereka karena takut di-judge.

Learned Helplessness: Mindset Kalah Sebelum Bertanding
Ada istilah psikologi yaitu learned helplessness, kondisi di mana seseorang mulai percaya bahwa ia tidak berdaya dan tidak bisa mengubah keadaan. Hal ini bisa terbentuk akibat terlalu sering terpapar kata-kata kasar secara terus-menerus.

Akibatnya seseorang menjadi tidak termotivasi untuk berkembang, takut mengambil risiko, dan selalu mengantisipasi hal-hal buruk.
Pelaku yang berkata kasar pun tidak luput dari dampak negatif. Mereka bisa mengalami gangguan kontrol impuls, masalah manajemen amarah, dan kesulitan menjalin hubungan yang stabil.

Bukan Sekadar Kata-kata Doang
Jadi kalau next time ada yang bilang “ah, kan cuma kata-kata,” kamu bisa jelasin kalau ini beneran ada science-nya. Otak kita, hormon kita, mental health kita, relationships kita, semuanya berefek sama cara berkomunikasi kita.
Kita pikir ngomong kasar itu membuat kita terlihat keren, padahal malah memperlihatkan kalau kita nggak punya emotional intelligence dan communication skills yang baik.

Gimana Caranya Mulai Berubah?
Oke, sekarang kita udah tahu efeknya. Tapi gimana dong caranya berubah?

Mindfulness Approach: Pause Dulu, Bernapas
Teknik paling simple adalah mindfulness. Setiap kali kamu merasa terpicu entah karena apa, pause dulu sebelum ngomong.
Hitung 1–2–3 dalam hati sebelum merespon. Dalam 3 detik itu, otak prefrontal cortex kamu punya waktu untuk mengatasi respon impulsif dari sistem limbik. Sederhananya kamu ngasih kesempatan buat pikiran rasional kamu untuk mengambil alih.

Saat seseorang memprovokasi kamu, tarik napas dalam-dalam terlebih dahulu
Tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini?”
Lalu bertanya lagi: “Bagaimana caraku menyampaikan ini tanpa merusak hubungan atau menyakiti orang lain?”

Teknik Pause-and-Reflect
Komunikasi digital memang tricky karena kita tidak bisa melihat bahasa tubuh atau mendengar intonasi suara lawan bicara. Karena itu sebelum mengirim pesan, berkomentar, atau memberi balasan, selalu luangkan waktu sejenak untuk berhenti dan merenung:
Baca ulang message kamu sebelum send
Tanya: “Kalau aku yang menerima message ini, gimana perasaanku?”
Jika masih emosional, simpan sebagai draft dan tunggu beberapa jam sebelum memutuskan untuk mengirimnya.

Gunakan Framework Komunikasi yang Lebih Baik
Nonviolent Communication (Komunikasi Tanpa Kekerasan)
Contoh:
❌ “Kamu tuh emang gak pernah tepat waktu!”
✅ “Aku merasa kecewa pas meeting kemarin kamu telat, karena aku udah siapin waktu khusus.”
Assertive Communication (Komunikasi Asertif)
Contoh:
❌ “Terserah kamu aja deh.”
❌ “Kamu emang egois banget!”
✅ “Aku butuh penjelasan tentang keputusan ini karena itu akan memengaruhi rencanaku juga.”

Latihan Role-Playing
Ini mungkin terdengar canggung tapi latihan memang kunci keberhasilan. Kamu bisa berlatih bersama teman dekat atau bahkan di depan cermin:

Pilih situasi yang biasanya membuat kamu emosi atau tersinggung
Latih cara merespons dengan tenang
Coba berbagai pendekatan sampai menemukan cara yang pas sesuai kepribadianmu

Aturan “Think Before You Send”
Platform digital memang cenderung memperbesar segala sesuatu. Satu tweet yang diposting saat emosi sedang tidak stabil bisa menjadi viral dan terus menghantuimu selamanya.


Oleh karena itu, ada aturan emas yang bisa dijadikan pegangan. Jika kamu tidak berani mengatakannya secara langsung (face-to-face), jangan tulis atau kirimkan itu secara online.

Filter dan Kurasi Konten
Bagi kamu yang masih kesulitan mengontrol komunikasi digital, tidak masalah kok menggunakan alat bantu:
Gunakan aplikasi parental control atau tools yang mampu menyaring konten negatif
Unfollow akun-akun yang sering membagikan konten toxic
Ikuti akun-akun yang menginspirasi komunikasi positif

Umpan Balik yang Konstruktif
Cari teman-teman terpercaya yang bersedia memberi masukan ketika gaya komunikasimu mulai terlihat toxic. Namun hubungan ini harus bersifat timbal balik. Kamu juga harus siap memberi dan menerima kritik dengan pikiran terbuka.

Komunitas Dukungan
Cari komunitas yang fokus pada pengembangan diri, public speaking, atau peningkatan keterampilan komunikasi.
Lingkungan sangat berpengaruh besar. Jika kamu dikelilingi oleh orang-orang yang menjunjung tinggi komunikasi, kamu akan secara alami menyesuaikan diri.

Latihan Berpikir Empatis
Empati adalah kemampuan yang bisa dilatih. Cobalah:
Sebelum merespons seseorang yang membuatmu kesal, lihatlah dari perspektif mereka terlebih dahulu
Tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang mungkin sedang dialami oleh dia sehingga bertindak seperti ini?”


Ingatlah bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang tidak selalu kita ketahui
Bukan berarti kamu harus membenarkan perilaku toxic, tapi minimal kamu tidak langsung merespons dengan cara yang sama toxic-nya.

Glow Up yang Sesungguhnya
Jelas kita tidak dituntut untuk selalu sempurna dalam berbicara. Tapi setidaknya sekarang kita tahu bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk melukai atau menjadi obat bagi hati orang lain. Pilihan sepenuhnya ada di tangan kita. 


Perubahan adalah sebuah proses, bukan tujuan akhir. Aku pun masih sering melakukan kesalahan dan mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak kuucapkan. Tapi yang menentukan adalah kesadaran dan keinginan untuk terus belajar menjadi lebih baik.


Generasi yang mampu berbicara tegas namun tetap sopan? Itulah bentuk glow up sesungguhnya yang dunia butuhkan saat ini. Bayangkan betapa indahnya jika kita semua bisa berdebat tanpa menyerang secara personal, menyampaikan kekecewaan tanpa menyebarkan racun, dan memiliki pendapat yang berbeda tanpa harus membenci.


Itulah dunia yang ingin saya tinggali.
Mulailah dari hal kecil. Konsisten. Dan ingat, mengubah gaya komunikasi tidak akan menghilangkan kepribadian aslimu, tapi akan menjadi level-up menuju versi terbaik dari dirimu sendiri. Percayalah orang-orang akan menyadarinya. Mereka akan merasa lebih nyaman di dekatmu, lebih terbuka untuk bekerja sama, dan lebih mudah menghargai pendapatmu.


5 Point dalam Ajaran Islam Berikut poin penting mengenai berbicara kasar dalam Islam:

Dibenci Allah: Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah benar-benar membenci orang yang lisannya kotor dan kasar.

Bukan Akhlak Mukmin: Orang beriman tidak suka mencela, melaknat, atau berkata keji. Berkata kasar adalah ciri akhlak yang buruk.

Ancaman Neraka: Perbuatan mencela dan mengumpat diancam dengan kecelakaan (wail), yang ditafsirkan sebagai lembah di neraka.

Dampak: Perkataan kasar merusak kehormatan diri, menyakiti hati, memicu permusuhan, dan mengurangi pahala ibadah.

Perintah: Umat Islam diperintahkan untuk berkata yang baik (qaulan karima, qaulan layyina).

"Kata-kata itu punya kekuatan. Gunakanlah dengan bijaksana".

Ade Suhendra
Ade Suhendra Belajar Online Masa Kini

Posting Komentar untuk "Tahukah Kamu? Ternyata Orang yang Sering Berbicara Kasar Memiliki Mental Health yang Buruk, dan Berikut Solusinya"