Tentang Menghargai Proses Hidup dalam Prespektif Islam
Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa…” (Q.S. Al A’raf: 54)
Sobat Insyouf, jika Allah mau… Ia bisa saja menjadikan segala-galanya dalam sekejap saja, cukup menyatakan “Jadi!” maka terjadilah, lalu apa hikmah di balik penciptaan langit dan bumi dalam enam masa?
Salah satu hikmahnya adalah mengenai menghargai proses, betapa Allah yang Maha Kuasa mencontohkan kepada semua makhlukNya mengenai pentingnya menghargai proses dalam kehidupan.
Cobalah belajar dari proses pembentukan janin! Perlu waktu sekitar 37 minggu untuk penyempurnaan bentuk dan fungsi sesosok makhluk yang disebut manusia!
Mau yang instan dan lebih singkat dari itu? Bisa saja, ada janin yang lahir pada usia di bawah 10 minggu, tapi kita menyebutnya ‘keguguran’ bukan melahirkan, karena prosesnya belum sempurna.
Sobat Insyouf, tahukah bagaimana rumit dan kompleksnya proses kehamilan hingga persalinan? Kepayahan bertambah-tambah yang dirasakan tiap calon ibu sungguh merupakan kenikmatan sekaligus ujian yang begitu dahsyat.
Di trimester awal, calon ibu akan merasakan keganjilan pada tubuhnya, masuk angin hampir setiap saat, mual dan muntah setiap pagi, bahkan mencium aroma masakan yang lezat pun bisa mengaduk-aduk isi perut dan mengeluarkan keringat dingin sekujur tubuh yang sulit dihilangkan meski dengan kerokan, alat bekam, atau minyak angin.
Trimester kedua, calon ibu akan merasakan pembengkakan tidak hanya di bagian perut tapi juga di beberapa bagian tubuh yang lain, ketidaknyamanan masih dirasakan, nafsu makan menjadi berlipat-lipat, mulai terasa gerakan-gerakan halus di rahim, dan melakukan gerakan menjadi lebih sulit dan terbatas.
Trimester ketiga, kepayahan semakin bertambah.
Berjalan sebentar pun akan membuat calon ibu berkeringat dan tersengal-sengal kehabisan nafas, posisi tidur serba salah, tiap sekian menit merasa ingin buang air, keram dan kesemutan di tangan dan kaki sudah langganan sehari-hari, tulang ekor terasa nyeri sudah menjadi hal yang biasa, karena pada tahap ini tidak hanya seluruh kulit yang telah merenggang, namun juga tulang dan sendi-sendi tubuhnya.
Akan tetapi jangan keliru, bagi calon ibu, semua kesakitan dan ujian ini merupakan anugerah yang indah! Maasya Allah.
Demikian pulalah seharusnya kita menghargai proses hidup: Setiap rasa sakit, takut, kepahitan, kemuakan, kebosanan, dan apapun yang kita alami tiap hari merupakan hal yang layak disyukuri dan diperlakukan selayaknya anugerah yang indah!
Adakah calon ibu yang mengutuk rasa sakit, mual, dan lelah semasa kehamilan? Tentu ada, yakni calon ibu yang tidak siap atas tanggungjawab dan belum mengerti konsekuensi dari sebuah proses memiliki anak.
Sama halnya, jika kita tak dapat menghargai serta menganggap proses hidup ini sebagai kenikmatan, sangat mungkin dikarenakan kita belum siap bertanggungjawab atas hidup kita dan juga belum mengerti konsekuensi hidup sebagai manusia di dunia ini yang sudah pasti harus melewati berbagai uji coba.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut: 2)
Bahkan keimanan pun membutuhkan berbagai pembuktian yang melewati sekian banyak tahapan dan rintangan, bagaimana mungkin kita berharap mendapat surga dan keridhoan Allah dengan cara yang instan?
Pada akhirnya, kesulitan hidup adalah jalan menuju kedewasaan iman. Dengan memadukan tauhid, pemahaman hikmah, doa, ikhtiar, dan syukur, seorang muslim dapat menemukan cara ikhlas menghadapi kesulitan dalam seluruh aspek kehidupannya. Jalan ini mungkin panjang, tetapi Allah telah menjanjikan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Kadang, kita terlalu fokus pada hasil, sampai lupa bahwa setiap detik perjuangan juga patut dihargai. Tak apa jika hari ini belum sempurna. Tak apa jika kamu merasa belum maksimal. Yang penting, kamu tidak berhenti. Ingatlah bahwa sore bukanlah akhir, tapi pengingat bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki, belajar, dan memperkuat hati. Nikmati prosesmu, karena dari situlah kekuatan sejati tumbuh.
Tapi lihatlah dirimu sekarang, kamu masih bertahan. Kamu tetap menjalani hari meski tidak semua berjalan sesuai rencana. Itu bukan hal kecil, itu tanda bahwa kamu semakin kuat.
Semangattt.
Posting Komentar untuk "Tentang Menghargai Proses Hidup dalam Prespektif Islam"
Posting Komentar