Mengenal Tirakat Santri Zaman Sekarang
Tirakat dalam tradisi pesantren telah lama menjadi simbol kesungguhan spiritual dalam belajar. Di mas lalu, tirakat sering kali dimaknai secara lahiriah dengan praktik seperti berpuasa sunnah, makan makanan yang sederhana dan meminimalkan waktu tidur.
Namun, bentuk tirakat mengalami pergeseran di era modern yang serba digital. Sekarang santri tidak lagi dituntut sekedar menahan lapar dan kantuk, tetapi lebih kepada menahan diri dari godaan dunia digital dan pergaulan bebas serta interaksi berlebih dengan lawan jenis. Ini adalah bentuk tirakat kontemporer yang menyesuaikan tantangan zaman.
وَ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ ِرجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنّةَ (متفق عليه) أخرجه البخاري) ) ,(6474)الترمذي( (2409)
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antar kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku menjamin baginya surga”. (Muttafaq ‘alaih: Shahih Bukhari (6474), Sunan Al Tirmidzi (2409).
Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga diri dari godaan syahwat, termasuk dalam bentuk modern seperti komunikasi berlebihan yang menjurus kepada fitnah antara laki-laki dan perempuan di dunia maya.
Gadget, Setan Gepeng Penggoda Pencari Ilmu
Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim menyatakan bahwa “Ilmu tidak akan masuk ke dalam hati yang sibuk dengan hal-hal duniawi yang tidak perlu”. Hal ini bisa dimaknai bahwa distraksi gadget dan pergaulan bebas adalah penghalang masuknya cahaya ilmu dalam hati santri.
Imam Al-Ghazali juga berkata dalam kitab Ihya’ Ulumuddin: “Hendaklah penuntut ilmu menghindari banyak bicara, banyak makan, banyak tidur, dan banyak bergaul.” Pernyataan ini semakin relevan di era sekarang, dimana “banyak bergaul” bisa terjadi bahkan tanpa keluar kamar, cukup melalui media sosial.
Beberapa bentuk tirakat kontemporer yang bisa diterapkan santri modern antara lain:
- Membatasi penggunaan media sosial hanya untuk hal-hal bermanfaat
- Menjaga adab komunikasi, terutama dengan lawan jenis, baik secara langsung maupun daring
- Menghindari konten hiburan berlebihan yang melalaikan dari kewajiban dan menurunkan kualitas ruhaniyah
- Menjadwalkan waktu khusus untuk muhasabah tanpa gangguan gadget
Tirakat santri era modern bukan berarti meninggalkan nilai-nilai klasik, melainkan menyempurnakannya sesuai dengan tantangan zaman. Menahan lapar dan kantuk memang berat, tetapi menahan jari dan mata untuk bermain media sosial berlebihan juga tak kalah beratnya. Oleh karena itu, membatasi diri dari pergaulan lawan jenis dan penggunaan media sosial secara berlebihan dapat dimaknai sebagai bentuk zuhud digital yang sangat dibutuhkan oleh santri masa kini. Inilah bentuk jihad nafsu yang relevan dalam zaman ini.
Posting Komentar untuk "Mengenal Tirakat Santri Zaman Sekarang"
Posting Komentar