Bagaimana Sikap Kita Jika Ada Sanak Keluarga yang Meninggal Dunia



Menjemput Ikhlas dari Musibah Kematian

Tidak ada satu pun orang yang tahu perihal kematian datang dalam kehidupan seorang manusia. Sejatinya kematian adalah pengingat akan kebesaran takdir Ilahi, sebab setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

Ibrah dari Musibah Kematian

Saudaraku, hanya Allah Swt. yang maha mengetahui kapan ajal menjelang bagi setiap manusia, sebab setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Semua pelayat saat itu tak ada yang menyangka bahwa semua ini akan terjadi, tetapi begitulah kehidupan tidak ada yang dapat menyangkal akan sebuah kematian yang datang begitu dekat. Jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada satu pun manusia yang bisa selamat atau lari dari takdir kematiannya. 

Semua pelayat merasa terkenang dengan sikap dermawan dan kebaikan hati almarhumah Ibu Tati, begitu pula almarhum Bapak Marja yang masih bercanda saat mengajar peserta didiknya di sekolah, sehari sebelum kematiannya. Tidak ada tanda-tanda mereka berdua akan menghadapi sakratulmaut. Semua orang yang hadir di acara pemakaman sangat sedih melepas kepergian sang guru yang telah mendedikasikan ilmunya selama ini.

Duka itu begitu lekat dan membuat orang-orang di sekitar tersadar bahwa kematian bisa saja menimpa pada siapa pun tanpa diketahui kapan waktunya. Rasa duka yang mendalam juga dirasakan oleh keluarga dekat, tetangga, dan sahabat yang telah kehilangan figur dari almarhumah dan almarhum karena selama mereka hidup di dunia, kebaikan dan ketulusannya begitu membekas dalam sanubari. 

Almarhum dan almarhumah adalah kedua guru yang ceria, tidak sekali pun mengeluh akan rasa sakit yang dideritanya hingga sebelum detik-detik kematian. Justru, mereka sempat tersenyum manis. Sehingga orang-orang yang ditinggalkan seakan tidak percaya dengan realita yang terjadi. 

Hal ini membuat saya merenung bahwa musibah kematian sungguh membuat manusia mendapatkan pelajaran berharga yaitu bila ajal telah datang tiada satu pun orang yang mengetahuinya, apalagi lari. Meskipun, kondisi awalnya seseorang terlihat baik-baik saja, tetapi jika ajal sudah memanggil, tidak ada yang bisa menyangkal.

Setinggi apa pun jabatan seseorang dan sebanyak apa pun hartanya, tak ada yang bisa menolongnya dan menyangkal dari musibah kematian, apalagi menolak akan hadirnya kematian. Artinya harta kekayaan yang dimiliki dan kekuasaan hanyalah titipan dari Allah Swt. di dunia. Akan tetapi ketika kita sudah kembali pada Allah, semua itu tiada berguna kecuali harta kekayaan yang dimiliki disedekahkan untuk anak-anak yatim, kaum duafa, dan masyarakat yang miskin. Sehingga pahala dari sedekah atau amal jariah akan mengalir pada ahli kubur.

Kematian Sebagai Pengingat Kuasa Illahi
Kepergian seseorang ke alam lain, tentu membuat sedih dan meninggalkan luka yang dalam bagi anggota keluarga, sahabat, dan orang-orang yang menyayanginya. Namun, yakinlah di balik musibah kematian, kita diberikan hikmah bahwa kematian sebagai pengingat agar kita yang masih bernyawa mensyukuri nikmat kehidupan yang Allah berikan, berlomba-lomba untuk menyiapkan amal kebajikan sebelum datangnya kematian, dan percaya akan takdir Illahi yang tidak bisa dimungkiri ini. 

Sehingga nantinya diharapkan kita akan semakin bertakwa kepada Allah Swt. Tumbuhnya perasaan takut pada Allah Swt., keinginan untuk berusaha mengimani dan yakin akan kehadiran Allah dalam hati, serta perasaan diawasi akan membuat kita menjadi muslim yang bertakwa. Bukan hanya itu, kita akan merasa bahwa diri kita begitu kecil di hadapan-Nya. 

Sehingga akan tumbuh perasaan ingin mendekat pada Allah Swt. dan takut untuk berbuat dosa, serta menjauhi perbuatan maksiat. Bukankah suatu saat kita juga akan pulang ke kampung akhirat? Tidakkah kita berpikir bahwa di dunia ini kita tidak bisa lari dari takdir kematian? Sayangnya kita tidak bersiap ketika ajal sudah datang, barulah kita tersadar dan mereguk indahnya hidayah Ilahi.
Jadi, sebelum terlambat, mari bersama-sama untuk menata diri agar bertobat dan hijrah pada Ilahi.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 35 Allah Swt. berfirman yang artinya: 
“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,”  

Hikmah di balik ayat tersebut adalah kita tidak bisa mengelak akan datangnya kematian karena kita semua pasti akan berpulang menghadap Ilahi. Allah Swt. menguji manusia dengan takdir kematian, jika kita mengimaninya, maka kita akan mengambil ibrah atas musibah ini dan belajar menjadi manusia yang ikhlas, senantiasa bersyukur atas karunia hidup yang Allah berikan serta menjadi manusia yang taat dan bertakwa.
Menjemput Ikhlas

Keikhlasan adalah bentuk cinta dari seorang hamba pada Rabb-nya. Sehingga apa pun takdir yang terjadi, tidak akan membuat seseorang putus asa, tetapi malah semakin bertambah tingkat keimanannya. Sebaiknya kita memang harus menjadikan Allah sebagai tempat untuk menggantungkan segala harapan. 

Jika rasa cinta seorang hamba bersemi indah, maka akan melahirkan ketaatan dan keimanan yang kokoh dan rasa yakin akan semakin kuat. Dengan begitu, apa pun takdir yang kita jalani akan menjadikan kita mukmin yang ikhlas. Kita harus menyakini bahwa keadaan kaya, miskin, dan perasaan sakit, duka, gembira, agar kita mengenal-Nya dengan seluruh sifat dan kuasa Allah pada langit dan bumi. Rasulullah saw. bersabda:
عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik baginya.” (HR Muslim)

Saudaraku, hikmah yang dapat dipetik dari ayat tersebut yaitu sikap sabar akan menumbuhkan rasa keikhlasan. Maka, bersabarlah ketika dihadapkan pada musibah kematian. Sabar adalah bentuk kepasrahan pada Allah Swt. Justru, di saat kita pasrah atas takdir Allah dan optimis dengan kehidupan di masa depan, Allah akan memberikan hadiah yang terindah bagi orang-orang yang kuat dan tabah menjalaninya. 

Tumbuhnya rasa sayang Allah pada hambanya karena dalam kondisi sesulit apa pun, kita tidak lantas menyerah, namun tetap bersabar. Bersyukurlah Allah masih menyayangi kita semua dengan begitu banyak nikmat-Nya yang tidak terukur di dunia ini. Jadikan kematian sebagai pengingat agar kita selalu berbuat kebajikan.

Mari berjuang meraih rida dari Ilahi dengan mencari hidayah dan mendekapnya sampai mati. Tidak ada kata terlambat selagi nyawa masih di kandung badan, masih ada waktu untuk kembali pada ajaran Ilahi dan memperbaiki diri menjadi muslim yang sejati. Tetaplah optimis untuk berjuang menjadi muslim yang taat dan genggam hijrahmu dengan kaffah.

Janganlah bersedih atas takdir kematian karena sesungguhnya ada hikmah di balik musibah. Justru, dari musibah kematian ini kita bisa memetik pelajaran berharga bahwa hidup ini hanya sementara, sehingga kita tak boleh menunda waktu untuk menjemput hidayah dari Ilahi, tetapi kita harus semangat untuk meraihnya. 

Tak ada satu pun orang yang tahu akan datangnya takdir kematian. Musibah kematian adalah pengingat bagi jiwa-jiwa yang lupa akan kuasa Ilahi dan sebagai ibrah agar kita mensyukuri nikmat kehidupan yang Allah berikan dengan selalu optimis dalam menghadapi liku hidup ini. Wallahu a’lam bishawab.

Ade Suhendra
Ade Suhendra Belajar Online Masa Kini

Posting Komentar untuk "Bagaimana Sikap Kita Jika Ada Sanak Keluarga yang Meninggal Dunia"