Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Anas bin Nadhar dan Abu Thalhah

ans bin nadhar dan abu thalhah

Anas bin Nadhar

Saudara perempuannya adalah Ummu Haritsah binti Saraqah, syahid yang diberitakan Nabi akan menempati surga firdaus. Putra saudara perempuannya adalah Anas bin Malik, orang yang pernah dido'akan oleh Rasulullah, “Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak dan berkahilah untuknya."

Ia absen dalam perang Badar. Karena itu, ia sangat bersedih dan menyampaikan kepada Rasulullah , “Ya Rasulullah, aku absen dalam perang Badar. Demi Allah, sekiranya Allah menjadikanku sebagai saksi untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah akan melihat apa yang aku perbuat."

Ketika tersiar desas-desus dalam perang Uhud bahwa Rasulullah telah gugur, ia mengatakan kepada para sahabatnya, "Untuk apa lagi kalian hidup setelah Beliau gugur? Marilah kita mati menyusul Beliau!" Selanjutnya ia mengatakan, "Wahai para sahabatku,sekiranya Muhammad telah mati terbunuh (gugur), maka Tuhannya Muhammad tidak akan mati terbunuh."

Tatkala sebagian kaum muslimin melarikan diri dalam perang Uhud, ia mengatakan, “Ya Allah, aku membebaskan diriku kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang musyrik dan aku memohon maaf kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan oleh pasukan kaum muslimin (yang melarikan diri dari medan tempur).” Setelah itu, ia berjalan sambil menghunus pedangnya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Sa'ad bin Mu'adz. Kepada Sa'ad, ia mengatakan, “Hai Sa'ad, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah mencium aroma surgawi......oh betapa indahnya aroma surgawi itu!!"

Ia gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Uhud dan ditubuhnya terdapat lebih dari 80 luka berupa tikaman pedang, tusukan tombak,dan anak panah.

Setelah gugur,jasadnya dicincang oleh orang-orang musyrik,sampai-sampai jasadnya hampir tidakdikenali oleh saudara perempuannya, kecuali dengan tanda yang ada di ujung jarinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Firman Allah  berikut ini turun berkenaan dengannya. Allah berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu waktu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya)."(Al-Ahzab:23)


Abu Thalhah

Nama lengkapnya Zaid bin Sahl bin Aswad Al-Anshari. Ia dilahirkan di Madinah tahun 36 sebelum hijrah. Ia ikut dalam Bai'at Aqabah II, perang Badar, dan semua peperangan bersama Rasulullah . 

Isterinya,Ummu Sulaim binti Malhanes, adalah seorang sahabat besar yang dikenal dengan Ar-Rumaisha'.

Ia dikaruniai dua orang putra, Abdullah dan Abu Umaira. Ia termasuk seorang pemanah ulung yang pemberani di masa jahiliyah dan di masa Islam. ia juga termasuk orang Anshar yang paling banyak harta kekayaannya.

Harta yang paling disukainya adalah sebidang kebun yang terletak di depan Masjid Nabawi. Nabi  sering masuk ke kebun tersebut dan minum dari sebuah sumber air minum yang terdapat di dalamnya. Tatkala firman Allah turun, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (Ali Imran: 92), Abu Thalhah langsung berniat untuk menyedekahkannya dan meminta pendapat kepada Nabi . Beliau lalu menyuruhnya untuk menyedekahkannya kepada kaum kerabatnya. Kemudian Abu Thalhah  membagikan sebidang kebun itu kepada kerabatnya dan kepada anak-anak pamannya.

Pada saat perang berkecamuk, ia selalu berada di depan Nabi untuk melindungi Beliau dari tembakan anak panah pasukan musuh. Kepada Nabi, ia mengatakan, “Ya Rasulullah, aku rela kehilangan leherku demi melindungi lehermu."

Ia adalah orang yang pernah dibonceng Nabi saat berangkat menuju perang Khaibar.

Tentang Abu Thalhah ,Rasulullah berkata, "Orasi Abu Thalhah di hadapan pasukan lebih baik daripada 1000 prajurit."

Dalam perang Hunain,Rasulullah mengatakan kepada para pasukannya, “Siapa yang berhasil membunuh tentara musuh,maka miliknya semua harta rampasannya."Dalam perang tersebut, Abu Thalhah berhasil membunuh 20 tentara musuh dan mengambil semua harta rampasan mereka.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Salah seorang anak Abu Thalhah a dari hasil perkawinannya dengan Ummu Sulaim meninggal dunia. Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya, "Janganlah kalian memberitahu Abu Thalhah tentang kematian anaknya sampai aku sendiri yang memberitahukannya kepadanya." Tidak lama kemudian, Abu Thalhah datang. Isterinya menyuguhkan makan malam, lalu Abu Thalhah makan malam. Malam itu, isterinya berpura-pura bersikap manja, hingga akhirnya mereka melakukan hubungan suami isteri. Setelah itu, isterinya mengatakan, "Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu kalau sekiranya ada sekelompok orang yang menitipkan barang kepada satu keluarga, lalu orang yang menitip itu hendak mengambil barang yang mereka titipkan,apakah orang yang dititipi barang itu berhak menghalangi mereka?" "Tidak boleh," jawab Abu Thalhah . “Kalau begitu, hendaklah Anda bersabar atas kematian putramu," kata isterinya. Mendengar hal itu, Abu Thalhah marah, kemudian berkata, “Kamu biarkan aku sampai aku menggaulimu baru kamu memberitahu aku tentang kematian putraku.” Setelah itu,Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah  dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Kepada Thalhah ,Rasulullah mengatakan, "Semoga Allah memberkahi hubungan suami isteri kalian tadi malam!."

Pada saat haji wada' (haji perpisahan),Rasulullah memberinya separoh potongan rambut Beliau pasca tahallul, lalu Beliau memberikan yang separohnya lagi kepada sahabat yang lain.

Ia adalah orang yang menggali kuburan Nabi sendirian.Sepeninggal Beliau,ia selalu mengerjakan puasa dan tidak berbuka kecuali di saat sakit atau dalam perjalanan.

Di antara hadits yang diriwayatkannya, ia berkata, "Nabi pernah berkurban dengan dua ekor domba. Ketika menyembelih domba yang pertama, Beliau mengatakan, "Atas nama Muhammad dan keluarganya." Ketika menyembelih domba yang kedua, Beliau mengatakan, "Atas nama orang yang beriman kepadaku dan yang bersedekah dari umatku."

Ia meninggal saat berada di tengah lautan pada saat berangkat menuju sebuah perang di masa pemerintahan Utsman bin Affan . Saat itu,tidak ditemukan satu pulau pun untuk mengebumikan jasadnya. Jasadnya tidak dikubur sampai tujuh hari dan selama itu jasadnya tetap seperti saat ia meninggal.

Ia meriwayatkan 25 hadits dari Nabi .Ia meninggal tahun 34 H dalam usia 70 tahun. jenazahnya dishalati oleh Utsman a dan dimakamkan di Madinah.

insyouf.com
insyouf.com Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar untuk "Kisah Anas bin Nadhar dan Abu Thalhah"