Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bilal bin Rabah, Penakluk Ketakutan

bilal bin rabah penakluk ketakutan

Bila disebut nama Abu Bakar, Umar pasti berkata, "Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita." Maksudnya adalah Bilal. 

Seorang yang diberi gelar oleh Umar “pemimpin kita” tentu bukan orang sembarangan, melainkan sosok berkepribadian besar yang layak memperoleh kehormatan seperti itu!Tetapi,setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, sosok yang digambarkan oleh para ahli riwayat sebagai laki-laki berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambutlebat,dan bercambang tipis ini justru menundukkan kepala dan memejamkan mata, serta dengan air mata mengalir membasahi pipinya. Ia justru mengucapkan, “Saya ini hanyalah seorang dari Habasyah, dan sebelum ini saya seorang budak.”.

Nah, siapakah kiranya orang Habasyah yang sebelumnya menjadi budak? Itulah dia Bilal bin Rabah, muazin Islam dan pengguncang berhala yang dipuja oleh orang-orang Quraisy sebagai sesembahan.Bilal merupakan salah satu keajaiban iman dan kebenaran; salah satu mukjizat Islam yang besar.

Dari setiap sepuluh orang, sejak munculnya agama itu sampai sekarang, bahkan sampai kapan saja dikehendaki Allah, kita akan menemukan sedikitnya tujuh orang mengenal Bilal. Artinya, dalam pergantian kurun dan generasi terdapat jutaan manusia yang mengenal Bilal, hafal namanya dan tahu riwayatnya secara lengkap, sebagaimana mereka mengenal dua Khalifah terbesar dalam Islam; Abu Bakar dan Umar.

Sungguh, bila Anda menanyakan kepada setiap anak yang masih merangkak pada tahun-tahun pelajaran dasarnya, baik di Mesir, Pakistan, maupun Cina, mereka pasti mengetahui siapa Bilal. Di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Asia, semua kenal Bilal. Di Iraq, Syria, Turki, Iran, Sudan, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan di seluruh permukaan bumi yang didiami oleh kaum muslimin, tidak ada yang tidak mengenalnya.

Anda akan dapat menanyakan kepada setiap remaja Muslim, “Siapakah Bilalitu, Nak?" Mereka pasti akan menjawab, “Ia adalah muazin Rasul. Ia sebelumnya adalah seorang budak, yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas, agar ia meninggalkan agamanya,tetapi ia menjawab, 'Ahad... Ahad... (Allah Yang Maha Esa...Allah Yang Maha Esa)'.”

Ketika Anda mengetahui kenangan abadi yang telah dianugerahkan Islam kepada Bilal tersebut, ketahuilah bahwa sebelum Islam, Bilal ini tidak lebih daripada seorang budak yang menggembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma. Tanpa Islam, ia tidak akan luput dari kenistaan perbudakan sampai maut datang merenggutnya dan setelah itu orang melupakannya.

Kebenaran iman dan keagungan agama yang diyakininya telah menempatkan kehidupan dan sejarah hidupnya pada kedudukan tinggi dalam deretan tokoh-tokoh Islam dan orang-orang suci. Banyak di antara orang-orang terkemuka, baik golongan berpengaruh maupun orang-orang kaya, yang tidak berhasil mendapatkan meski hanya sepersepuluh dari keharuman nama yang diperoleh Bilal, si Budak Habasyah ini. Bahkan, tidak sedikit tokoh-tokoh sejarah yang tidak mencapai separuh kemuliaan yang dicapai oleh Bilal!

Kehitaman warna kulit, kerendahan kasta dan bangsa,serta kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak, sekali-kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian, dan kesungguhannya setelah ia memasuki Agama Islam.

Semua itu terjadi karena dalam neraca penilaian dan penghormatan yang diberikan oleh orang-orang kepadanya, hanyalah kekaguman terhadap kedudukan tinggi yang tidak semestinya. Orang menyangka bahwa seorang hamba seperti Bilal,biasanya asal-usulnya tidak menentu; tidak berdaya dan tidak mempunyai keluarga, serta tidak memiliki suatu hak pun dalam hidupnya. Budak adalah milik tuannya yang telah membeli dengan hartanya, dan kerjanya berada di tengah hewan ternak, pulang balik di antara unta dan domba tuannya.Menurut dugaan mereka, makhluk seperti ini tidak akan mampu melakukan sesuatu, atau menjadi sesuatu yang berarti.

Ternyata, Bilal tidak seperti yang diduga oleh kebanyakan orang. Buktinya, ia mampu mencapai derajat keimanan yang sulit dicapai oleh orang lain. Ia menjadi muazin pertama bagi Rasulullah dan Islam, sebuah amal yang menjadi dambaan bagi setiap pemimpin dan pembesar Quraisy yang telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasul.

Itulah dia, Bilal bin Rabah!

Seperti apakah sejatinya kepahlawanan kebesaran yang disandang oleh ketiga kata ini:“Bilal bin Rabah"?

Ia seorang Habasyah dari golongan orang berkulit hitam. Takdir telah membawa nasibnya menjadi budak Bani Jumah di kota Mekkah, karena ibunya salah seorang hamba sahaya mereka. Kehidupannya tidakberbeda dengan budak-budak lainnya. Hari-harinya berlalu dalam rutinitas yang gersang, tidak ada satu hari pun yang istimewa baginya. Ia tidak menaruh harapan apa pun pada hari esok.

Pada akhirnya, berita-berita meńgenai Muhammad mulai sampai ke telinganya, yakni ketika orang-orang di Mekkah menyampaikan berita itu dari mulut ke mulut. Selain itu, ia juga mendengarkan perbincangan majikannya bersama para tamunya, terutama majikannya Umayah bin Khalaf, salah seorang pemuka Bani Jumah, yaitu kabilah yang menjadi majikan yang dipertuan oleh Bilal.

Sekian lama, Bilal mendengarkan ketika Umayah membicarakan Rasulullah ,baik dengan kawan-kawannya maupun sesama anggota sukunya dan mengeluarkan kata-kata berbisa, penuh dengan rasa amarah, tuduhan dan kebencian. Di antara poin yang dapat ditangkap oleh Bilal dari ucapan kemarahan yang tidak berujung pangkal itu,ialah sifat-sifat yang melukiskan agama yang baru baginya. Menurutnya, sifat-sifat itu merupakan perkara baru bia dipandang dari sudut lingkungan di mana ia tinggal. Selain itu, di antara ucapan-ucapan yang keras penuh ancaman itu, Bilal juga mendengar pengakuan mereka atas kemuliaan Muhammad ; tentang kejujuran dan keterpercayaan beliau.

Begitulah, Bilal mengetahui bahwa mereka sebenarnya kagum dan tidak habis pikir terhadap ajaran yang dibawa oleh Muhammad Sebagian mereka mengatakan kepada yang lain, “Tidak pernah Muhammad  berdusta atau menjadi tukang sihir. Ia tidak pula sinting atau berubah akal. Namun, kia terpaksa menuduhnya demikian untuk membendung orang-orang yang berlomba-lomba memasuki agamanya." Bilal mendengar mereka memperbincangkan kesetiaan Rasulullah dalam menjaga amanah, tentang kejujuran dan ketulusan beliau; tentang akhlak dan kepribadian beliau.

Bilal juga mendengar mereka berbisik-bisik mengenai sebab yang mendorong mereka menentang dan memusuhinya. Pertama, adalah kesetiaan mereka terhadap kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyangnya, dan kedua adalah kekhawatiran mereka terhadap kedudukan Quraisy saat itu. Kedudukan yang mereka peroleh sebagai imbalan kedudukan mereka menjadi pusat keagamaan, kiblat peribadatan, dan ritual haji di seluruh Jazirah Arab. Alasan selanjutnya adalah kedengkian terhadap Bani Hasyim, mengapa Nabi dan Rasul itu muncul dari golongan ini dan bukan dari pihak mereka.

Suatu hari Bial bin Rabah melihat cahaya ilahi dan dari dalam lubuk hatinya yang suci murni timbul keinginan untuk menyambut sebuah pilihan utama. Karena itulah, ia menjumpai Rasulullah  dan menyatakan masuk Islam. Tidaklama setelah itu, berita rahasia keislaman Bilal pun tercium dan beredar di kepala tuan-tuannya dari Bani Jumah, yakni kepala-kepala yang selama ini dikuasai oleh kesombongan dan ditindih oleh kecongkakan. Karena itu tidak aneh bila setan-setan dimuka bumi bersarang di dalam dada Umayah bin Khalaf, yang menganggap keislaman seorang hambanya sebagai tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatan mereka semua.

Kini budak mereka, orang Habasyah itu, masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Namun, hati Umayah mengatakan, "Tidak apa-apa." "Matahari yang terbit hari ini tidak akan tenggelam dengan Islamnya budak durhaka itu,” katanya. Sekali-kali tidak, bukan saja sang surya itu akan tenggelam dengan Islamnya Bilal, bahkan suatu hari kelak matahari akan tenggelam dengan membawa semua patung-patung dan pembela-pembela berhala itu.

Bilal sendiri bukan saja ia mendapatkan kedudukan yang merupakan kehormatan bagi Islam semata-walau Islam memang lebih berhak untuk itu-melainkan juga merupakan kehormatan bagi kemanusiaan secara umum. la telah menjadi sasaran berbagai macam siksaan seperti dialami oleh tokoh-tokoh utama lainnya.

Allah seolah-olah menjadikannya sebagai cermin bagi umat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, asal saja ia beriman dan taat kepada Penciptanya serta memegang teguh hak-hak-Nya.

Bilal telah memberikan pelajaran kepada orang-orang yang semasa dengannya, juga bagi orang-orang pada zaman kapan pun, yang seagama dengannya, bahkan bagi pengikut-pengikut agama lain; suatu pelajaran berharga yang menjelaskan bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani tidak dapat dibeli dengan emas separuh bumi,atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya.

Dalam keadaan telanjang ia dibaringkan di atas bara, agar ia meninggalkan agamanya atau mencabut pengakuannya. Namun, Bilal menolak. Karena itu, budak Habasyah yang lemah dan tidak berdaya ini telah dijadikan oleh Rasulullah  dan Islam sebagai guru bagi seluruh kemanusiaan dalam persoalan menghormati hati nurani dan mempertahankan kebebasan serta kemerdekaannya.

Suatu saat, pada tengah haribolong, ketika padang pasir berganti rupa menjadi neraka jahanam, orang-orang Quraisy membawanya ke luar, lalu melemparkannya ke pasir yang panas bagai api yang menyala dalam keadaan telanjang, kemudian beberapa orang laki-laki mengangkat batu besar yang juga panas laksana bara, dan menjatuhkannya ke atas tubuh dan dadanya.

Siksaan kejam dan biadab ini mereka ulangi setiap hari, hingga karena dahsyatnya, hati beberapa orang di antara algojo-algojo menaruh kasihan kepadanya dan melunak. Mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja ia mau menyebut nama Tuhan-Tuhan mereka secara baik-baik walau dengan sepatah kata sekali pun, tidak usah lebih,yang akan menjaga nama baik mereka di mata umum, hingga tidak menjadi buah pembicaraan bagi orang-orang Quraisy; bahwa mereka telah mengalah dan bertekuk lutut kepada seorang budak yang gigih dan keras kepala.

Namun, walau sepatah kata yang dapat diucapkan bukan dari lubuk hati,dan yang dapat menebus nyawa dan hidupnya tanpa kehilangan iman dan melepas keyakinannya, Bilal tidak ingin mengucapkannya. Begitulah, Ia menolak mengucapkan hal itu, dan sebagai gantinya ia mengulang-ulang senandungnya yang abadi,“Ahad... Ahad...!” Para algojo itu pun memaksanya, “Katakanlah seperti yang kami katakan!”Tetapi, dengan ejekan pahit dan penghinaan yang menjengkelkan,Bilal menjawab, “Lidahku tidak dapat mengucapkannya.”

Bilal tetap menjalani deraan panas dan tindihan batu, hingga ketika hari petang mereka menegakkan badannya dan mengikatkan tali pada lehernya, lalu mereka suruh anak-anak untuk mengaraknya keliling perbukitan dan jalan-jalan di Mekkah, sedangkan kedua bibir Bilal terus menerus melagukan senandung sucinya,“Ahad...!Ahad...!”

Bila malam telah tiba, orang-orang itu pun menawarkan kepadanya, “Besok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap Tuhan-Tuhan kami, sebutlah: Tuhanku Lata dan 'Uzza. Setelah itu kami lepaskan dan biarkan kamu sesuka hatimu! Kami telah letih menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Namun, dapat dipastikan Bilal akan menggelengkan kepalanya dan hanya menyebut, “Ahad...Ahad....

Karena tidak dapat menahan gusar dan murka, Umayah meninju Bilal sambil berteriak, “Kesialan apa yang menimpa kami disebabkan olehmu, wahai budak celaka? Demi Lata dan 'Uzza, aku akan menjadikan dirimu sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka!" Dengan keyakinan seorang mukmin dan kebesaran seorang suci, Bilal menjawab,“Ahad...Ahad....

Orang-orang yang diserahi tugas berpura-pura menaruh belas kasihan kepadanya, kembali membujuk dan mengajukan tawaran. Mereka berkata kepada Umayah, “Biarkanlah dia, wahai Umayah! Demi Lata, ia tidak akan disiksa lagi setelah hari ini. Bilal ini anak buah kita, bukankah ibunya budak kita? Ia tentu tidak akan rela bila dengan keislamannya itu nama kita menjadi ejekan dan cemoohan bangsa Quraisy!”

Bilal menatap tajam wajah-wajah para penipu dan pengatur muslihat licik itu. Tiba-tiba ketegangan itu menjadi kendur oleh senyuman bagai cahaya fajar dari mulut Bilal. Dengan ketenangan yang dapat mengguncangkan mereka, ia kembali berkata, "Ahad... Ahad...."

Waktu siang telah tiba dan tepat menjelang waktu Zuhur Bilal pun dibawa orang ke padang pasir lagi. Bilal tetap sabar dan tabah, tenang tidak goyah. Saat mereka menyiksanya, tiba-tiba Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dan berkata, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Kemudian ia berkata kepada Umayah bin Khalaf, “Ambillah tebusan yang lebih besar daripada harganya dariku, lalu bebaskan ia.”

Umayah saat itu bagai orang yang hampir tenggelam, tiba-tiba diselamatkan oleh sampan penolong. Hatinya lega dan merasa sangat beruntung saat mendengar Abu Bakar hendak menebus budaknya. Dia telah putus asa untuk menundukkan Bilal. Selain itu, mereka adalah para pedagang, sehingga dengan dijualnya Bilal, mereka melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya. Akhirnya Bilal dijual kepada Abu Bakar yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal pun tampil mengambil tempatnya dalam lingkungan orang-orang merdeka. 

Ketika Ash-Shiddiq menggandeng lengan Bilal dan membawanya ke alam bebas, Umayah berkata kepadanya, “Bawalah ia! Demi Lata dan 'Uzza, seandainya harga tebusannya tidak lebih dari satu uqiyah, pastilah ia akan kulepas juga!"

Abu Bakar tahu bagaimana keputusasaan dan kepahitan akibat kegagalan yang tersirat dalam ucapan itu, hingga lebih baik tidak melayaninya. Tetapi, karena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang telah menjadi saudara yang tidak berbeda dengan dirinya, ia pun membalas kata-kata Umayah, “Demi Allah, andainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali seratus uqiyah, aku pasti akan membayarnya!"

Setelah itu, Abu Bakar pergi bersama sahabatnya itu menghadap Rasulullah  dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal. Saat itu pun bagaikan hari raya besar.

Setelah Rasulullah bersama kaum muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliau pun mensyariatkan azan untuk melakukan shalat. Lantas siapakah kiranya yang akan menjadi muazin untuk shalat itu sebanyak lima kali dalam sehari semalam, yang suara takbir dan tahlilnya akan berkumandang ke seluruh pelosok? Orang itu ialah Bilal, yang telah menyerukan, "Ahad...Ahad...."Ucapan yang selalu ia lantunkan sejak tiga belas tahun yang lalu, sementara siksaan terus mendera dan menyiksa tubuhnya.

Pada hari itu pilihan Rasulullah jatuh pada dirinya sebagai muazin pertama dalam Islam. Dengan suara yang merdu dan empuk, Bilal mengisi hati dengan keimanan dan telinga dengan keharuan, sementara seruannya menggemakan:

“Allahu Akbar...Allahu Akbar

Allahu Akbar...Allahu Akbar

Asyhadu allailaha illallah

Asyhadu allailaha illallah

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Hayya 'alas shalah

Hayya 'alas shalah

Hayya 'alal falah

Hayya 'alal falah

Allahu Akbar...Allahu Akbar

La Ilaha illallah

Suatu saat, terjadilah peperangan antara kaum muslimin dan tentara Quraisy yang datang menyerang Madinah. Pertempuran berkecamuk dengan sangat sengit dan dahsyat. Bilal maju dan menerjang dalam perang pertama pada masa Islam itu, yaitu Perang Badar, yang sebagai semboyannya dititahkan oleh Rasulullah menggunakan ucapan, “Ahad...Ahad...!”

Dalam peperangan ini Quraisy mengerahkan tenaga intinya. Para pemuka Quraisy terjun untuk menemui tempat kematian mereka! Pada mulanya Umayah bin Khalaf, yang tidak lain merupakan bekas majikan Bilal yang telah menyiksanya secara kejam dan biadab, tidak hendak ikut dalam peperangan itu.

Ia sebenarnya enggan untuk berangkat kalau saja rekannya yang bernama Uqbah bin Abu Mu'ith tidak menghampirinya, setelah ia mendengar keengganan dan sifat pengecutnya itu. Uqbah menghampirinya sambil membawa anglo (yang biasanya digunakan oleh wanita untuk mengasapi tubuh dengan wewangian) di tangan kanannya.

Setelah sampai dan berhadapan muka dengan Umayah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah kaumnya, Uqbah meletakkan anglo itu di hadapannya seraya berkata, “Wahai Abu Ali, terimalah dan pergunakanlah anglo ini, karena kamu tidak lebih dari seorang wanita!"

“Keparat, apa yang kau bawa ini?" teriak Umayah geram.

Akhirnya, tanpa bisa mengelak, ia terpaksa ikut berangkat dalam peperangan itu bersama kawan-kawannya.

Rahasia takdir apakah kiranya yang tersembunyi di balik peristiwa ini? Sebelum itu, Uqbah bin Abu Mu'ith adalah seorang yang paling gigih mendorong Umayah untuk melakukan siksaan terhadap Bilal dan kaum muslimin yang tidak berdaya lainnya. Sekarang, ia pulalah yang mendesaknya supaya ikutdalam Perang Badar, tempat ia akan menemui ajalnya, sekaligus tempat kematian Uqbah itu sendiri.

Sekali lagi, Umayah pada waktu itu keberatan dan enggan untuk ikut dalam peperangan, dan kalau bukan karena desakan Uqbah dengan cara sebagai kita ketahui itu, ia tidak akan turut serta di dalamnya. Tetapi, rencana Allah pasti berlaku. Umayah harus ikut. Ada piutang lama antara dirinya dan salah seorang hamba Allah yang kini datang saatnya untuk diselesaikan. Allah tidak pernah tidur. Bagaimana kalian memperlakukan orang maka seperti itu pula kalian akan diperlakukan orang lain.

Takdir ini memang harus terjadi pada orang sombong! Uqbah yang kata-katanya didengar oleh Umayah dan kemauannya untuk menyiksa orang-orang mukmin yang tidak berdosa diturutinya, kini justru menjadi orangyang menyeretnya ke liang kubur. Di tangan siapakah kematiannya? Di tangan Bilal, tidak lain di tangan Bilal sendiril Tangan yang oleh Umayah dulu diikat dengan rantai, sedangkan pemiliknya didera dan disiksa. Dengan tangan itu pula pada hari itu, yaitu waktu Perang Badar yang merupakan saat yang tepat dan diatur oleh takdir, utang-piutang pun diselesaikan dan perhitungan dengan algojo-algojo Quraisy yang telah menimpakan penghinaan dan kezaliman terhadap orang-orang mukmin pun dilaksanakan. Peristiwa ini terjadi secara sempurna, tanpa ditambah atau dibumbui.

Ketika pertempuran di antara dua pihak telah dimulai, dan barisan kaum muslimin maju bergerak dengan semboyannya, “Ahad... Ahad..., jantung Umayah bagai tercabut dari akarnya dan rasa takut menguasai dirinya. Kalimat yang kemarin diulang-ulang oleh hambanya di bawah tekanansiksa dan dera, sekarangtelah menjadisemboyandarisuatuagama secara utuh, dan dari suatu umat yang baru secara keseluruhan."Ahad... Ahad..." Mengapa secepat itu ucapan itu berkembang? Ini adalah pertumbuhan yang sangat cepat?

Pertempuran telah berkecamuk dan pedang bertemu pedang. Ketika perang telah hampir usai, Umayah melihat sekilas keberadaan Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah  Dia pun segera berlindung kepadanya, dan meminta agar menjadi tawanannya, dengan harapan dapat menyelamatkan nyawanya. Permintaan itu dikabulkan oleh Abdurrahman dan ia bersedia melindunginya.

Di tengah-tengah hiruk-pikuknya perang, Abdurrahman membawa Umayah ke tempat para tawanan. Namun, di tengah Bilal sepintas melihatnya dan langsung berteriak, “Ini dia, gembong kekafiran, Umayah bin Khalaf! Biarkanlah aku mati daripada orang ini selamat."

Seiring dengan teriakan itu, Bilal mengangkat pedangnya hendak memenggal kepala yang selama ini menjadi besar disebabkan kecongkakan dan kesombongan. Namun, Abdurrhman berkata kepadanya, “Wahai Bilal, ia tawananku!”

"Tawanan? Bukankah pertempuran masih berkobar dan roda peperangan masih berputar?" tanya Bilal keheranan. Bagaimana mungkin ia menjadi tawanan, sedangkan belum lama berselang senjatanya menghunjam di tubuh kaum muslimin yang sampai sekarang masih meneteskan darahnya?

Tidak! Bagi Bilal itu artinya ejekan dan penindasan. Cukuplah selama iniUmayah mengolok-olokdan melakukan penindasan.la telah menindas demikian rupa, hingga hari ini tidak ada lagi kesempatan tersisa, dalam keadaan segawat ini; dalam momen yang menentukan ini!

Bilal melihat bahwa dirinya tidak akan mampu mematahkan perlindungan saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf. Karena itulah, ia berteriak dengan suara sekeras-kerasnya kepada kaum muslimin, “Wahai para penolong agama Allah! Inilah gembong kekafiran, Umayah bin Khalaf. Lebih baik aku mati daripada ia dibiarkan lolos!”

Seketika itu pula serombongan kaum muslimin berdatangan dengan pedang penyebar maut di tangan mereka dan mengepung Umayah bersama putranya. Abdurrahman bin Auftidak mampu berbuat apa-apa, bahkan ia tidak mampu melindungi bajunya yang telah terkoyak-koyak oleh desakan orang banyak.

Bilal memandangi tubuh Umayah yang telah rubuh oleh tebasan pedang-pedang itu lama sekali, kemudian ia bergegas meninggalkan tempat itu, sementara suaranya yang nyaring mengumandangkan, “Ahad...Ahad....”

Saya pikir, kita tidak perlu membahas keutamaan toleransi dari pihak Bilal dalam suasana seperti itu. Namun, seandainya pertemuan antara Bilal dengan Umayah terjadi pada suasana lain, bolehlah kita meminta kepadanya agar memberi maaf, yang tidak mungkin ditolak oleh Bilal, sosok yang keimanan dan ketakwaannya sangat tinggi.

Sebagaimana kita ketahui, mereka bertemu di medan laga,tiap-tiap pihak datang ke arena pertarungan itu dengan tujuan menghancurkan pihak lawannya. Pedang dan tombak berkelebat, para korban berguguran, dan maut merajalela berseliweran! Tiba-tiba, pada saat seperti itu, Bilal melihat Umayah, yang tidak sejengkal pun dari tubuhnya luput dari bekas kekejaman dan siksaan Umayah.

Sekali lagi, di manakah Bilal melihat Umayah dan dalam suasana apa? Bilal melihatnya dalam kancah pertempuran. Umayah memenggal kepala kaum muslimin yang ditemuinya, dan seandainya ia mendapat kesempatan untuk memenggal kepala Bilal pada saat itu, tentu ia tidak akan menyia-siakan kesempatan itu! Itulah keadaan yang terjadi saat kedua laki-laki itu berhadapan muka! Dengan demikian, tidaklah adil menurut logika bila kita bertanya kepada Bilal, mengapa ia tidak memberi maaf dengan sebaik-baiknya.

Hari demi hari terus berganti dan tibalah saatnya Mekkah dibebaskan. Dengan mengomandoi 10 ribu kaum muslimin, Rasulullah memasuki Mekkah sambil mengucapkan syukur dan takbir. Beliau langsung menuju Ka'bah yang telah dipadati berhala oleh Quraisy dengan jumlah bilangan hari dalam setahun, yakni tidak kurang dari 360 buah berhala.

Kebenaran telah datang, dan kebatilan pun hancur lebur. Mulai hari itu tidak ada lagi Lata, Uzza, atau Hubal. Sejak saat itu manusia tidak lagi menundukkan kepalanya kepada batu atau berhala, dan tidak ada lagi yang mereka puja sepenuh hati kecuali Allah yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Dialah Rabb Yang Mahatunggal lagi Esa; Mahatinggi lagi Mahabesar.

Rasulullah  memasuki Ka'bah dengan membawa Bilal sebagai teman! Baru saja masuk, beliau telah berhadapan dengan sebuah patung pahatan, menggambarkan Ibrahim sedang berjudi dengan menggunakan anak panah. Rasulullah sangat murka. Beliau bersabda, “Semoga mereka dihancurkan Allah! Nenek moyang kita tidak pernah melakukan perjudian seperti ini. Dan Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi,bukan pula seorang Nasrani, melainkan seorang yang beragama suci dan seorang muslim, dan sekali-kali bukan dari golongan musyrik."

Rasulullah  memerintahkan Bilal naik ke bagian atas masjid untuk mengumandangkan azan. Bilal pun mengumandangkan seruan azan. Alangkah mengharukan saat itu. Denyut nadi kehidupan di Mekkah terhenti, dan dengan jiwa yang satu, ribuan kaum muslimin dengan hati khusyuk dan secara berbisik mengulangi kalimat demi kalimat yang diucapkan Bilal.

Orang-orang musyrik di rumahnya masing-masing hampir tidak percaya dan bertanya-tanya dalam hatinya:

Inikah dia Muhammad dengan orang-orang miskinnya yang kemarin terusir meninggalkan kampung halamannya?

Benarkan itu dia yang mereka usir, mereka perangi, dan mereka bunuh keluarga yang paling dicintainya serta kerabat yang paling dekat kepadanya?

Betulkah itu dia yang beberapa saat yang lalu nyawa mereka berada di tangannya, memaklumkan kepada mereka, “Pergilah kalian, karena kalian semua bebas”?

Tiga orang bangsawan Quraisy sedang duduk-duduk di pekarangan Ka'bah. Mereka tampak terpukul menyaksikan pemandangan itu, yaitu ketika Bilal menginjak-injak berhal-berhala mereka dengan kedua telapak kakinya, kemudian di atas reruntuhannya yang telah hancur luluh,Bilal menyenandungkan suara azan yang berkumandang diseluruh pelosok Mekkah, tidak ubahnya bagai tiupan angin di musim semi.Tiga orang itu ialah Abu Sufyan bin Harb yang telah masuk Islam beberapa saat yang lalu, Attab bin Usaid, dan Al-Harits bin Hisyam, kedua orang ini belum masuk Islam

Attab berkata sambil memandangi Bilal yang sedang menyuarakan azan, “Sungguh Usaid (ayahnya yang telah mati) telah dimuliakan Allah, karena ia tidak mendengar sesuatu yang sangat dibencinya!"

Al-Harits menyahut,“Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa Muhammaditu di pihak yang benar, aku pasti mengikutinya!"

Abu Sufyan yang memang cerdas itu menukas pembicaraan kedua sahabatnya dengan ungkapan, “Aku tidak akan mengatakan sesuatu, karena seandainya aku berkata, kerikil-kerikil ini pasti akan mengabarkannya!"

Ketika Nabi meninggalkan Ka'bah, beliau melihat mereka, lalu dalam sekejap waktu beliau membaca wajah-wajah mereka. Kemudian, dengan kedua mata yang bersinar dengan cahaya ilahi, beliau bersabda kepada mereka, “Aku tahu apa yang telah kalian katakan tadi."

Beliau lalu menceritakan apa yang mereka katakan sebelumnya. Al-Harits dan Attab pun berseru, “Kami menyaksikan bahwa Anda adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak seorang pun mendengarkan pembicaraan kami, hingga kami dapat menuduh bahwa ia telah menyampaikannya kepada Anda."3

Sekarang, mereka menghadapi Bilal dengan pandangan baru. Dalam lubuk hati mereka bergema kembali kalimat-kalimat yang mereka dengar dalam pidato Rasulullah pada awal memasuki Mekkah,“Wahai orang-orang Quraisy, Allah telah melenyapkan dari kalian kesombongan jahiliah dan kebanggaan terhadap nenek moyang.Manusia itu bermula dari Adam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah."

Bilal melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah dan ikut mengambil bagian dalam semua perjuangan bersenjata pada masa hidupnya. la tetap menjadi muazin, menjaga serta menghidupkan syiar agama besar ini, yang telah membebaskan dirinya dari kegelapan menuju cahaya, dari perbudakan kepada kemerdekaan.

Kedudukan Islam semakin tinggi, demikian pula kaum muslimin, taraf dan derajat mereka ikut naik, dan Bilal semakin lama semakin dekat di hati Rasulullah Beliau pernah menyatakan dirinya sebagai seorang laki-laki penduduk surga.

Tetapi, sikapnya tidak berubah, tetap seperti biasa; mulia dan besar hati, yang selalu memandang dirinya tidak lebih daripada seorang Habasyah yang kemarin menjadi budak. Suatu hari, ia pergi meminang dua orang wanita untuk calon istrinya sendiri dan saudaranya. Ia berkata kepada orang tua kedua wanita itu, “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami berasal dari bangsa budak Habasyah. Pada mulanya, kami berada dalam kesesatan kemudian diberi petunjuk oleh Allah. Kami sebelumnya adalah budak-budak belian lalu dimerdekakan oleh Allah. Jika pinangan kami Anda terima, segala puji bagi Allah, namun bila Anda tolak, Allah Mahabesar.”

Rasulullah kembali ke hadirat Ilahi dalam keadaan ridha dan diridhai.Penanggung jawab kaum muslimin sepeninggal beliau dibebankan di atas pundak khalifahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Suatu saat,Bilal pergi menjumpai khalifah Rasulullah tersebut untuk menyampaikan isi hatinya. Ia berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah,saya mendengar Rasulullah bersabda, 'Amal yang paling utama bagi orang beriman adalah berjihad fi sabilillah."

"Jadi, apa maksudmu, wahai Bilal?" tanya Abu Bakar.

“Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia," jawab Bilal.

“Siapa lagi yang akan menjadi muazin bagi kami nanti?” tanya Abu Bakar. Dengan air mata berlinang Bilal menjawab, “Saya tidak akan menjadi muazin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah".

“Tidak, tetaplah tinggal di sini hai Bilal, dan menjadi muazin kami!"

"Seandainya Anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan Anda, baiklah saya terima permintaan Anda itu. Tetapi, bila Anda memerdekakan saya karena Allah, biarkanlah diri saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik Anda itu!”

“Saya memerdekakanmu itu semata-mata karena Allah, wahai Bilal!"

Mengenai kehidupan Bilal selanjutnya, ada perbedaan pendapat di antara para ahli riwayat. Sebagian meriwayatkan bahwa ia pergi ke Syria dan menetap di sana sebagai mujahid dan penjaga perbatasan wilayah Islam. Menurut pendapat lain, ia menerima permintaan Abu Bakar untuk tinggal bersamanya di Madinah. Kemudian, setelah Abu Bakar wafat dan Umar diangkat sebagai khalifah, Bilal minta izin dan mohon diri kepadanya, lalu berangkat ke Syria.

Bagaimanapun juga, Bilal telah mendedikasikan sisa hidup dan usianya untuk berjuang menjaga benteng-benteng Islam di perbatasan, dan membulatkan tekadnya untuk dapat menjumpai (wafat) Allah dan Rasul-Nya, dalam keadaan sedang melakukan amal yang paling disukai oleh keduanya. Suaranya yang merdu, tulus dan penuh wibawa itu, tidak lagi mengumandangkan azan seperti biasa. Itu karena setiap kali membaca “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", kenangan lamanya bangkit kembali, dan suaranya tertelan oleh kesedihan, digantikan oleh cucuran air mata.

Azannya yang terakhir ialahketika Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah agar meminta Bilal menjadi muazin untuk satu shalat saja. Amirul Mukminin memanggil Bilal dan ketika waktu shalat telah tiba, ia meminta dirinya agar menjadi muazin.

Bilal pun· naik ke menara dan mengumandangkan azan. Para sahabat yang pernah mendapati Rasulullah  waktu Bilal menjadi muazinnya menangis dan mencucurkan air mata. Mereka menangis seolah-olah tidak pernah menangis sebelumnya dan yang paling keras tangisnya di antara mereka ialah Umar.

Bilal berpulang ke rahmatullah di Syria sebagai pejuang di jalan Allah seperti keinginannya. Di perut bumi Damaskus sekarang terpendam kerangka dan tulang-belulang milik pribadi yang besar di antara manusia, yang sangat teguh dan tangguh pendiriannya dalam mempertahankan keyakinan dan keimanan. 

insyouf.com
insyouf.com Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar untuk "Bilal bin Rabah, Penakluk Ketakutan"