Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Sedih Bilal bin Rabah, Allah Maha Melihat

bilal bin rabah

Jangan sedih, Bilal..

Allah Maha Melihat...

Pertolongan Allah selalu dekat..

BILAL BIN RABAH, seorang lelaki berkulit hitam, kecil, keturunan Afrika itu lahir di pinggiran kota Mekah pada tahun 43 sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah, seorangwanita yang memiliki kulit hitam. Bilal kecil tumbuh besar di keramaian kota Mekah sebagai hamba sahaya milik keluarga Bani Abdul Dar. Ketika Rabah, ayahnya, meninggal dunia, Bilal pun diserahkan kepada seorang pembesar kaum Quraisy yang bernama Umayyah bin Khalaf. Pada tahun-tahun berikutnya, akan muncul adegan di mana majikan dan budak ini akan berseteru tentang iman yang dimenangkan oleh budaknya (Bilal).

Oase kota Mekah menyebarkan kabar tentang agama baru yang masih asing di telinga penduduk kota, yaitu Islam. Ajaran ini mengenalkan bahwa hanya ada satu ilah yang patut disembah, Allah SWT., karena Dialah pencipta langit dan bumi. Kemurnian ajaran ini pernah pula dibawakan oleh Bapak Nabi sebelumnya, Ibrahim as., yang telah mendirikan kakbah. Karena disampaikan oleh seorang lelaki yang tulus, terkenal jujur, dan memiliki sifat-sifat mulia lainnya, maka kacaulah kondisi kota yang awalnya sibuk menyembah Tuhan-tuhannya. Sebenarnya mereka percaya pada ucapan lelaki baik itu, hanya saja di lain pihak, mereka akan merasa rugi pada bisnis dan kehidupan mewah yang selama ini telah dinikmati jika ditinggali. Sekaligus, masih ada rasa congkak di hati mereka sebagaimana iblis yang taat pada Allah, namun congkak di hadapan manusia.

Agama Islam pun langsung viral diperbincangkan. Dan sekelebat menyusup ke pendengaran Bilal bin Rabah. Tanpa kata tapi dan nanti, Bilal pun memeluk agama Islam karena menemukan ketenangan dan kebenaran di sana. Tapi sayang, majikannya yang bernama Umayyah mengetahui kabar masuk Islamnya Bilal bin Rabah. Merah padam wajahnya, lalu bergegas menemui Bilal untuk menyiksanya.

Berbagai ancaman dan penyiksaan melayang pada Bilal. la disiksa tanpa ampun bagai bukan seorang manusia. Semula ia dipukuli hingga babak belur, namun Bilal tak bergeming tetap pada keyakinannya. Kemudian Bilal diseret secara paksa melewati pasar kota, diikat pada tanah menghadap sinar mentari yang garang tanpa diberi makan ataupun minum, hingga kelaparan dan kehausan. Saat matahari tepat di atas kepala, di mana jilatan panasnya telah membuat padang pasir seperti panasnya neraka dunia, Bilal pun dipakaikan baju besi. Sehingga panasnya berkali-kali lipat dari sebelumnya. Sungguh, malangnya Namun tak ada kata yang terlontar dari bibirnya, selain kata "Ahad. Ahad.. Ahad.."' yang membuat Umayyah semakin putus asa dan menjadi-jadi dalam menyiksa. Umayyah pun mencambuk Bilal dengan cemeti, lalu menaruh sebongkah batu besar pada dada budak kecil itu hingga tulang iganya patah dan sulit bernapas.

"Sampai kau mengakui dewa-dewa sebagai Tuhanmu, baru akan kubebaskan" Perintah Umayyah kesal. "Ahad.. Ahad.. Ahad." dalam lidah yang keluh dan di ujung nyawa, Bilal terus mendengungkan nama Tuhannya.

Jasadmu milik tuan, tetapi hatimu milik Tuhan.

Allah pun mendatangkan pertolongan pada Bilal melalui Abu Bakar as-Shiddiq yang mendengar kabar penyiksaan Bilal di padang pasir. Dengan cepat, Abu Bakar mendatangi mereka berdua untuk membeli Bilal dan membebaskannya dari perbudakan. Jangan bersedih Bilal, Allah Maha Melihat...

Umayyah pun menawarkan harga tinggi untuk membebaskan Bilal . la meminta 10 dirham emas, yang langsung disanggupi oleh Abu Bakar. Dengan begitu, terbebaslah Bilal sebagai budak Umayyah bin Khalaf. la telah merdeka dan menjadi seorang manusia seutuhnya, sekaligus sebagai seorang muslim yang awal-awal memeluk Islam.

"Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati" (QS. Ali Imran: 139)

"Janganlah bersedih atas mereka" dan "Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita." (QS. At-Taubah: 40)

la tak akan menyia-nyiakan iman di dada. Iman yang telah mengubah hidup seseorang dari sebelumnya. Dia, lelaki yang pernah menjadi budak, berkulit hitam, berpostur kecil, dipandang rendah tanpa harga, bahkan disiksa tanpa rasa manusia, namun karena iman di dada, Allah mengangkat derajatnya. Sampai detik ini namanya masih membumi, jasadnya tenang di alam barzakh, namanya telah terpampang di pintu surga sebagai calon penghuninya. Sementara mereka yang pernah menganiaya adalah lelaki yang berkuasa di dunia, glamour dan hidup mewah, serta mencicipi berbagai keindahan dunia. Namun karena jauh dari Allah, hidupnya berujung sengsara.

"Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya Δ‘ari situ ada siksa." (QS. Al-Hadid: 13)

insyouf.com
insyouf.com Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar untuk "Jangan Sedih Bilal bin Rabah, Allah Maha Melihat"