🔔 ikuti juga di Google News

Sunan Bonang dan Kisahnya Berdakwah dengan Musik




  • Kisah Sunan Bonang yang Berdakwah dengan Gamelan

Sunan Bonang adalah salah satu Wali Songo yang populer dengan cara berdakwahnya. Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 dan wafat di usianya 60 tahun atau tepatnya pada tahun 1525.

Ayahnya juga merupakan salah satu Wali Songo yakni Sunan Ampel. Sedangkan ibunya adalah puteri dari Arya Teja, Bupati Tuban yakni Nyai Ageng Manila. Sejak kecil, beliau sudah mendapatkan pendidikan nilai-nilai Islam.

Kecerdasan dan keuletannya dalam menuntut ilmu menjadikannya orang yang menguasai banyak hal. Mulai dari ilmu fiqih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, hingga bela diri seperti pencak silat.


  • Asal Usul Nama Sunan Bonang

Sunan Bonang sebenarnya bukan merupakan nama asli. Nama asli beliau adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim. Penamaan Sunan Bonang ternyata ada asal usulnya.

Raden Maulana Makdum Ibrahim yang suka berdakwah dengan menyisipkan unsur seni di dalamnya ini ternyata menciptakan sebuah alat musik tradisional yang berbentuk mirip dengan gong, hanya saja ukurannya kecil karena hanya seukuran piring saja.

Alat musik tersebut kemudian dinamakan dengan nama alat musik bonang. Sekarang masyarakat lebih suka menyebutnya dengan nama gamelan Jawa. Awalnya, alat ini memiliki enam buah gong kecil yang diletakkan di atas bingkai kayu, tapi sekarang jumlahnya bisa lebih dari enam karena ada yang mencapai belasan.

Sunan Bonang berdakwah dengan menggunakan musik yang dialunkan lewat gamelan buatannya. Hal ini bukan tanpa alasan. Beliau memilih untuk berdakwah dengan musik supaya mudah diterima oleh masyarakat Jawa pada masa itu tanpa adanya paksaan.

Perjalanan berdakwah beliau dimulai dari kota Kediri, Jawa Timur. Saat itu beliau mendirikan sebuah langgar atau musala yang berlokasi di pinggir Sungai Brantas, tepatnya di Desa Singkal.

Setelah berdakwah di sana, Sunan Bonang lalu melanjutkan dakwahnya ke Demak, Jawa Tengah. Saat di Demak, beliau tinggal di Desa Bonang. Konon, beliau juga mendapat julukan sebagai Sunan Bonang karena lama bermukim di desa ini.

Untuk berdakwah di Pulau Jawa tentunya tidaklah mudah karena pada masa itu masyarakat Jawa punya adat istiadat yang sangat kental dan kebanyakan masih memegang teguh unsur kejawen.

Tapi, Sunan Bonang tidak mudah menyerah. Beliau melihat kalau masyarakat Jawa sangat tertarik dengan dunia seni sehingga dari sinilah muncul ide untuk membuat sebuah alat musik yang kemudian dinamakan sebagai alat musik bonang.

Saat akan memulai dakwahnya, Sunan Bonang akan memainkan gamelan bonang tersebut sehingga keluar suara merdu dan bisa menarik perhatian banyak orang.

Sambil memainkan alat musik, beliau akan menyanyikan tembang atau lagu yang di dalamnya berisi ajaran-ajaran Islam. Dari sinilah masyarakat setempat lambat laun mulai tertarik untuk mempelajari Islam.

Selain dengan menggunakan gamelan tersebut, Sunan Bonang juga sering berdakwah dengan menggunakan wayang. Tentu saja di pertunjukan wayangnya tersebut akan disisipkan cerita dan ajaran Islami di dalamnya.


  • Warga Lasem Jamas Pusaka Peninggalan Sunan Bonang

Alkisah Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim) semasa hidupnya memang memilih Desa Bonang sebagai sentra pondok pesantren guna melakukan syiar Agama Islam, sebagaimana diamanatkan oleh gurunya, Sunan Ampel di Ampeldenta, Surabaya. Maulana Makdum Ibrahim muda diperintahkan gurunya berjalan ke arah Barat (dari Surabaya yang kala itu namanya Ampel) hingga bertemu dengan pohon kemuning yang subur.

Sesampai di sebuah tempat, di lereng pegunungan Argopuro di tepian pantai utara Sunan Bonang muda, akhirnya menemukan banyaknya pohon kemuning. Desa Bonang konon dinamakan Desa Kemuning, namun akhirnya dinamakan Desa Bonang karena sebagai tempat mukim sekaligus pusat pendidikan agama Islam di bawah asuhan Sunan Bonang hingga akhir hayatnya.

Sang Sunan yang merupakan salah satu tokoh sentral Wali Sanga, dikenal memiliki pusaka Kyai Bende Becak yang konon menurut sahibul hikayat merupakan penjelmaan utusan dari Kerajaan Majapahit Pak Becak yang hendak menghadap Sunan di waktu senjakala. Dari kejauhan utusan tersebut selalu mendendangkan irama (nyanyian) hingga mendekati masjid tempat sang Sunan sedang mengajarkan agama.

Karena dianggap mengganggu, para murid mempertanyakan datangnya suara, Sunan Bonang kemudian berujar jika suara tersebut adalah suara bende dan tanpa disangka Pak Becak yang sudah berdiri di dekat masjid berubah menjadi bende (salah satu piranti gamelan Jawa). Sunan Bonang begitu kaget dan kecewa, ternyata ucapannya menjadi kenyataan, seketika itu juga bende yang kemudian diberi nama ‘Kyai Bende Becak’ itu dirawat Sunan hingga akhir hayatnya, sekaligus diperintahkan kepada para murid agar tetap merawat pusaka tersebut.

“Terlepas dari mitos hikayat dari para orang tua, karena ucapan seorang Waliullah, maka yang diucapkan mendapat izin Allah. Kita sebagai generasi penerus akan tetap melestarikan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Bonang dengan melakukan penjamasan pada setiap tanggal 10 Dzulhijah,” kata juru kunci pusaka, H Abdul Wachid.

Tujuh belanga yang berisikan air sumur Bonang, berikut bunga setaman digunakan untuk mencuci pusaka Kyai Bende Becak yang terbungkus kain mori putih. Air bekas jamasan, bunga maupun kain mori yang disobek sobek kecil, senantiasa menjadi rebutan para pengunjung, sehingga panitia sempat kewalahan membagikan peda pengunjung yang jumlahnya ratusan orang.

Meski para ulama dalam sambutannya selalu meminta kepada peziarah untuk tidak mempercayai sesuatu yang bias mengakibatkan perilaku musrik (syirik) namun, para pengunjung dari tahun ke tahun selalu tidak berubah. Mereka meyakini, air bekas jamasan, kain mori putih dan sisa bunga jamasan dapat digunakan sebagai tolak balak (terhindar dari marabahaya) karena perlindungan Allah melalui seorang wali-Nya yaitu Sunan Bonang.

Mewakili Bupati Rembang yang berhalangan hadir, Camat Lasem Kukuh Purwasana dalam sambutannya mengatakan, jika acara ritual penjamasan Bende Becak merupakan acara tahunan yang layak dikemas menjadi wisata religi-budaya menyatu dengan heritage yang ada di kota tua Lasem. Bupati Rembang H Abdul Hafid di berbagai kesempatan menyatakan jika kawasan Bonang-Lasem akan dijadikan destinasi Budaya Religi.

Desa Bonang dengan berbagai jenis petilasan Sunan Bonang serta kota tua Lasem yang kaya akan peninggalan dan akulturasi kebudayaan Islam-Jawa-Tionghoa. Di seputar Desa Bonang diyakini terdapat makam Sunan Bonang karena tempat terakhir mukimnya sunan dalam syiar agama Islam,meski fakta membuktikan di Tuban, Jawa Timur juga terdapat makam Sunan Bonang. Dari Desa Bonang sebelah Utara, terdapat pasujudan Sunan Bonang yang merupakan puncak perbukitan/pegunungan Argopuro yang sekarang juga banyak makam para murid kesayangan Sunan diantaranya makam Putri Campa (puteri dari Kamboja) serta makam Raja Minangkabau (Sultan Mahmud) yang berguru kepada Sunan Bonang hingga akhir hayatnya.

Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan memberikan DONASI. Tekan tombol merah.
Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar



  • Home

  • DAFTAR



  • Follow
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
[ ]