Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan, Siapakah Tuhan Sebenarnya ?

Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan


  • Siapakah Tuhan Sebenarnya Menurut Nabi Ibrahim AS

Nabi ibrahim AS adalah putera dari Aazar (tarih) bin tahur bin saruj rau’ bin falij bin Aabir bin syalih bin arfakhsyad bin saam bin nuh as. Ayahnya adalah pembuat patung untuk sesembahan. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam Aram” dalam kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama “Namrud bin kan’aan”, Beliau adalah seorang rasul Allah yang diutus kepada satu kaum di negeri irak yang dikuasai oleh raja Namrud.

Ketika Nabi ibrahim AS masih anak-anak, dia dapat merasakan kesesatan kaummnya yang menyembah berhala. Lalu Nabi ibrahim merenung dan berfikir, siapakah Tuhan yang sebenarnya? “Wahai ayahku,” kata Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) kepada ayahnya, Azar, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-An’am [6] ayat 74. “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”

Berhala-berhala yang dimaksudkan Nabi Ibrahim AS adalah patung-patung yang menyerupai simbol benda-benda langit. Ketika itu, kaum Nabi Ibrahim AS memang gemar beribadah kepada bintang-bintang, matahari, dan bulan. Berbeda dengan kaum Nabi Nuh AS yang hidup pada masa sebelumnya yang gemar menyembah kuburan dan patung-patung orang-orang shalih pada zamannya.

Tentu saja sang ayah tak menuruti nasehat sang anak yang diungkap dalam bentuk pertanyaan ini. Malah, dalam ayat lain di al-Qur’an disebutkan betapa marahnya Azar ketika Ibrahim AS meminta ia tidak lagi menyembah berhala-berhala itu. Azar berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam.” (QS: Maryam [19]: 46)

Lalu, secara halus Ibrahim AS mengajak ayahnya dan kaumnya untuk berfikir dengan melihat benda-benda langit yang selama ini mereka ibadahi. Benda langit pertama yang ia saksikan ketika malam telah gelap adalah bintang. Ibrahim AS berkata, “Inilah Tuhanku.” Bintang itu kemudian tenggelam dan tidak lagi terlihat. Ibrahim AS berseru,  “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS: Al An’am [6]: 76).

Lalu Ibrahim AS melihat bulan muncul di langit yang hitam. Dia berkata lagi, “Inilah Tuhanku.” Lama kelamaan bulan itu juga terbenam. Ibrahim AS kembali berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS: Al An’am [6]:77).

Setelah itu terbitlah matahari. Kembali Ibrahim AS berkata, “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Menjelang senja, matahari perlahan-lahan terbenam di ufuk barat. Melihat fenomena ini, Ibrahim AS menasehati kaumnya, “Wahai kaumku. Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS: Al An’am [6]:78-79).

Begitulah kisah Ibrahim AS yang tertulis jelas dalam al-Qur’an. Ia mengajak kaumnya untuk berfikir bahwa benda yang selama ini mereka sembah tidaklah pantas untuk di-Tuhan-kan. Tak mungkin Tuhan berubah-ubah, kadang ada, kadang tiada. Kaumnya –bahkan ayahnya sendiri– jelas tak bisa membantah logika yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS.

Demikian pula kita. Jika kita merenungi alam semesta ini, mengamati fenomena-fenomena yang bergitu rumit namun teratur, maka akal kita akan membenarkan bahwa semua ini pastilah ada yang menciptakannya sekaligus mengaturnya. Tak mungkin ia ada dengan sendirinya. Tak mungkin ia bergerak atau berproses dengan sendirinya.

Ada cukup banyak ayat dalam al-Qur’an yang meminta kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitar agar kita benar-benar yakin kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Ta’ala. Dalam surat Yunus [10] ayat 101, misalnya, Allah Ta’ala berfirman, “Perhatikanlah apa yang terdapat di langit dan di bumi.”  Demikian pula pada surat al-A’raf [7] ayat 185, Allah Ta’ala berfirman, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi?”

Namun, setelah kita memperhatikan fenomena alam semesta, apakah hati kita otomatis menjadi yakin? Belum tentu! Akal kita memang membenarkan, namun hati kita boleh jadi belum sepenuhnya mengimani.

Jika hanya karena itu lantas hati kita akan langsung mengimaninya, maka mengapa masih banyak orang-orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala meskipun ia telah bersyahadat? Mengapa masih banyak orang yang tak takut dengan azab neraka dan tak tergiur dengan nikmatnya surga meskipun penjelasan tentang itu telah sampai kepada mereka? Jawabnya, karena mereka belum betul-betul mengimaninya.

Hanya Allah Ta’ala yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Dia memberikan hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia pula yang menutup hati orang yang Dia kehendaki.

Kita hanya bisa berdoa agar Allah Ta’ala menetapkan kita dalam iman dan Islam, serta memberi hidayah kepada orang-orang yang kita sayangi, sebagaimana Nabi Ibrahim AS juga berdoa untuk ayahnya.

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim AS berkata kepada ayahnya, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS: Maryam [19]: 47).

Namun Allah Ta’ala tidak berkehendak atas doa Nabi Ibrahim AS. Sang ayah tetap musyrik hingga akhir hayatnya. Begitu pun kaumnya, tetap ingkar meskipun kebenaran telah nyata ditunjukkan oleh Ibrahim AS.

Dengan demikian, bagi seseorang yang mengikuti fitrah ketuhanannya dan juga pemikiran ilmiah manusia, penyebutan berbagai fenomena alam, beragam planet beserta keindahannya merupakan pertanda adanya Tuhan yang maha besar beserta keagungan dan keindahan ciptaan-Nya.


  • Nabi Ibrahim AS Diperintahkan Menyembelih Anaknya

Pada suatu malam, nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya dimana ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya ismail oleh Allah SWT. Mimpi itu membuat hati nabi Ibarhim bergejolak. Namun Sebagai pecinta sejati, Ia tidak "menggugat" perintah Allah SWT itu. Nabi Ibrahim adalah penghulu para pecinta. 

Nabi Ibrahim berpikir tentang apa yang dikatakan kepada anaknya ketika ia menidurkannya di atas tanah untuk kemudian menyembelihnya. Lebih baik baginya untuk memberitahu anaknya dan hal itu lebih menenangkan hatinya daripada memaksanya untuk menyembelih. 

Akhirnya, Nabi Ibrahim pergi untuk menemui anaknya. "Ibrahim berkata: 'Wahai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi, aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu. " (QS. ash-Shaffat: 102). 

Perhatikanlah bagaimana kasih sayang Nabi Ibrahim dalam menyampaikan perintah kepada anaknya. la menyerahkan urusan itu kepada anaknya; apakah anaknya akan menaati perintah tersebut. 

Bukankah perintah tersebut adalah perintah dari Tuhannya? Ismail menjawab sama dengan jawaban dari ayahnya itu bahwa perintah itu datangnya dari Allah SWT yang karenanya si ayah harus segera melaksanakannya: "Wahai ayahku kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar." (QS. ash-Shaffat: 102). 

Perhatikanlah jawaban si anak. Ia mengetahui bahwa ia akan disembelih sebagai pelaksanaan perintah Tuhan, namun ia justru menenangkan hati ayahnya bahwa dirinya akan bersabar. Itulah puncak dari kesabaran. Barangkali si anak akan merasa berat ketika harus dibunuh dengan cara disembelih sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT. 

Tetapi Nabi Ibrahim merasa tenang ketika mendapati anaknya menantangnya untuk menunjukkan kecintaan kepada Allah SWT. Kita tidak mengetahui perasaan sesungguhnya Nabi Ibrahim ketika mendapati anaknya menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Allah SWT menceritakan kepada kita bahwa Ismail tertidur di atas tanah dan wajahnya tertelungkup di atas tanah sebagai bentuk hormat kepada Nabi Ibrahim agar saat ia menyembelihnya Ismail tidak melihatnya, atau sebaliknya. 

Kemudian Nabi Ibrahim mengangkat pisaunya sebagai pelaksanan perintah Allah SWT: "Tatkala keduanya telah berserah din dan Ibrahim, membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)." (QS. ash-Shaffat: 103). 

Pada saat pisau siap untuk digunakan sebagai perintah dari Allah SWT, Allah SWT memanggil Ibrahim. Selesailah ujiannya, dan Allah SWT menggantikan Ismail dengan suatu kurban yang besar. Peristiwa tersebut kemudian diperingati sebagai hari raya Idul Adha oleh kaum Muslim, yaitu hari raya yang mengingatkan kepada mereka tentang Islam yang hakiki yang dibawa dan di amalkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail.


  • Beberapa Mukjizat dari Nabi Ibrahim AS

1. Mengeluarkan Madu dari Jarinya

Mukjizat Nabi Ibrahim yang pertama adalah mengeluarkan madu dari jari-jarinya. Kisah ini terjadi ketika Nabi Ibrahim baru lahir. Saat itu, Raja Namrud diberitahu oleh peramal bahwa akan ada seorang anak laki-laki yang dapat membuat sang raja mati binasa di tangannya.

Khawatir akan hal itu, dia pun memerintahkan bawahannya untuk membunuh semua bayi laki-laki yang baru dilahirkan pada tahun itu.


2. Membangun Baitullah

Nabi Ibrahim juga dikenal sebagai nabi pertama yang membangun Baitullah. Suatu hari, Allah menyampaikan pesan kepada Nabi Ibrahim melalui awan berkepala untuk membangun sebuah rumah untukNya. Kemudian, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah itu.


3. Pasir Berubah Jadi Makanan

Suatu hari, semua orang mendatangi kediaman Raja Namrud untuk mendapat bekal makanan. Namun, semua orang yang menginginkan makanan harus menyebut bahwa Namrud adalah Tuhannya ketika sang raja bertanya, “Siapakah Tuhanmu?,” Nabi Ibrahim malah menjawab, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mampu menerbitkan matahari dari timur, atau jika tiba saatnya untuk diterbitkan dari barat,”.

Akibatnya, Namrud pun mengusir Nabi Ibrahim tanpa memberikan sedikit pun makanan. Akhirnya, Nabi Ibrahim pulang dengan hanya membawa pulang sekantung pasir. Sesampainya di rumah, dia hanya meletakkan semua barang bawaannya dan langsung beristirahat. Ajaibnya, keesokan pagi setelah sang nabi bangun, dia terkejut bahwa sang istri mengolah hidangan yang sangat lezat.


4. Tubuh Tidak Terbakar Api

Seperti yang telah diketahui, Raja Namrud selalu mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan dan meminta warganya menyembah patung berhala.

Kemudian, Nabi Ibrahim pun menghancurkan patung-patung tersebut dan hanya menyisakan patung paling besar. Namrud pun naik pitam mengetahui hal tersebut.

Namun, Nabi Ibrahim mengatakan bahwa yang menghancurkan patung-patung tersebut adalah satu patung yang berukuran paling besar. Semakin marah, Namrud menyuruh kaumnya membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Mukjizat pun terjadi, Nabi Ibrahim yang tidak henti berdoa meminta pertolongan, hingga akhirnya tubuh dan pakaiannya masih tetap utuh karena tidak mempan terbakar oleh api.


5. Menghidupkan Orang Mati

Mukjizat Nabi Ibrahim yang bisa menghidupkan orang mati diceritakan dalam surat Al-Baqarah ayat 260. Dalam surat tersebut, diceritakan bahwa ketika di puncak bukit, Allah bertanya kepada sang nabi apakah dia percaya dengan kekuasaannya atau tidak.

Lalu, Nabi Ibrahim pun menanyakan kepada Allah mengenai cara menghidupkan orang mati. Allah pun meminta Nabi Ibrahim mengambil empat ekor burung dan mencincangnya, lalu meletakkannya di puncak bukit.

Nabi Ibrahim lalu turun dari bukit untuk mencari empat ekor burung, mencincangnya, dan meletakkannya di bukit. Allah pun menyuruh Nabi Ibrahim memanggil burung-burung tersebut.Ternyata, mukjizat pun terjadi, burung-burung tersebut kembali terbang dari atas bukit dan kembali menuju Nabi Ibrahim.


  • Ibrahim AS Menghadapi Raja Namrud

Raja Namrud sangat marah karena nabi Ibrahim dapat mematahkan pendapat-pendapatnya. Dia menganggap nabi Ibrahim sebagai musuh yang harus dihancurkan dan dia berkata dengan sangat kasar kepada nabi Ibrahim. “Hai nabi Ibrahim, aku mau menantang Tuhan mu. Buktikan kalau dia bisa mengalahkanku”. 

Nabi Ibrahim sangat terkejut mendengar tentangan  dari raja Namrud, maka beliau takut bilamana azab Allah akan segera datang di wilayah babilonia nantinya. Setelah beberapa hari kemudian raja Namrud mengumpulkan bala tentaranya, dengan seruan kepada nabi Ibrahim yaitu Suruh Tuhan mu dan tentaranya melawan aku dan pasukanku,  tantang raja Namrud dengan bahasa yang tegar dan sombong.

Pada saat itu, tiba- tiba di langit tampak awan hitam yang datang mendekat, setelah makin dekat, mereka baru menyadari bahwa itu bukanlah awan hitam, melainkan kawanan nyamuk yang datang menyerbu. Ribuan nyamuk langsung menyerang raja Namrud dan pasukan nya. Mereka sangat panik menerima serangan dari makhluk-makhluk yang kecil itu. Tubuh mereka menjadi lemah dan tidak lagi bertenaga untuk melawan binatang yang kecil itu ( Nyamuk ).

Raja Namrud yang berada di tengah-tengah pasukan menjadi panik juga, serangan dari makhluk nyamuk itu yang sangat dahsyat sehingga dia tidak berdaya dan tidak mampu berbuat apa-apa terhadap serangan makhluk nyamuk itu. sehingga raja namrud dan pasukannya lari tunggang langgang dari serangan makhluk nyamuk. 

Itu pun ada nyamuk besar yang berhasil untuk mengejar dan nyamuk besar itu masuk ke dalam hidung raja Namrud lalu menggigitnya, dan dia berteriak dengan suara yang cukup keras dan kesakitan atas gigitan nyamuk, kepalanya terasa mau pecah dan tubuhnya merasa kesakitan yang luar biasa Akhirnya raja Namrud yang bisa melawan Tuhan itu menggelepar dan mati, semua pasukan tentaranya tidak mampu bertahan mereka tewas yang sangat mengenaskan. Nabi Ibrahim dan pengikutnya telah bersyukur karena dihindarkan oleh Allah dari serangan makhluk nyamuk-nyamuk itu.


Begitulah bentuk balasan nyata Allah, para Nabi adalah utusannya, dan Allah akan sentiasa memelihara mereka daripada segala bencana dan malapetaka. Dan kita sebagai umat muslim dapat mengambil hikmah, mengenai keesaan dan ketaatan kepada Allah. 

insyouf.com
insyouf.com Religi dan Motivasi + Wawasan

Posting Komentar untuk "Kisah Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan, Siapakah Tuhan Sebenarnya ?"