Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ternyata ! Adzan Di Buat Atas Usulan Sahabat Nabi Muhammad SAW

sejarah adzan


  • Usulan Adzan dari Sahabat Nabi Muhammad SAW

Sejarah adzan yang perlu diketahui,  "Nabi Muhammad berkeinginan untuk mencari cara dalam memberitahukan waktu shalat, namun beliau belum juga menemukannya," kata seorang sahabat, Abdullah bin Zaid. Pada masa-masa awal di Madinah, umat Islam berkumpul di masjid untuk menunggu datangnya waktu shalat. Namun ketika waktu shalat telah datang, tidak ada seorang pun yang memberitahukannya. Mereka langsung shalat saja, tanpa ada penanda sebelumnya. Seolah seperti tahu sama tahu. 

Namun, seiring dengan berkembangnya Islam, banyak sahabat yang tinggalnya jauh dari masjid. Sebagian lainnya memiliki kesibukan yang bertambah hingga membuatnya tidak bisa menunggu waktu shalat di masjid. Atas hal itu, beberapa sahabat usul kepada Nabi Muhammad agar membuat tanda shalat. Sehingga, mereka yang jauh dari masjid atau yang memiliki kesibukan bisa tetap menjalankan shalat tepat. 

Para sahabat Nabi memiliki usulan yang beragam sebagai tanda masuknya waktu shalat. Ada yang mengusulkan agar menggunakan lonceng sebagaimana orang Nasrani. Ada yang menyarankan menggunakan terompet seperti orang Yahudi. Dan ada juga merekomendasikan untuk menyalakan api di tempat tinggi sehingga umat Islam yang rumahnya jauh dari masjid bisa melihatnya. Semua usul tersebut ditolak. 

Ketika kondisi umat Islam ‘buntu’ seperti itu, dikutip dari Sirah Nabawi (Ibnu Hisyam, 2018), seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid menghadap Nabi Muhammad. Ia menceritakan bahwa dirinya baru saja bermimpi melihat seruan adzan pada malam sebelumnya. Dalam mimpi tersebut, Abdullah bin Zaid didatangi seorang berjubah hijau yang sedang membawa lonceng. Semula Abdullah bin Zaid berniat membeli lonceng yang dibawa orang berjubah hijau tersebut untuk memanggil orang-orang kepada shalat. 

Namun orang tersebut menyarankan kepada Abdullah bin Zaid untuk mengucapkan serangkaian kalimat, sebagai penanda waktu shalat telah datang. Serangkaian kalimat adzan yang dimaksud adalah: Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya 'alash sholah hayya 'alash sholah, Hayya 'alal falah hayya 'alal falah, Allahu Akbar Allahu Akbar, dan La ilaha illallah.

Nabi Muhammad kemudian meminta Abdullah untuk mengajari Bilal bin Rabah bagaimana cara melafalkan kalimat-kalimat tersebut. Pada saat Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan, Umar bin Khattab yang tengah berada di rumahnya mendengar. Ia segera menghadap Nabi Muhammad dan menceritakan bahwa dirinya juga bermimpi tentang hal yang sama dengan Abdullah bin Zaid. Yakni adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat. 

Dalam satu riwayat, Nabi Muhammad juga disebutkan telah mendapatkan wahyu tentang adzan. Oleh karena itu, beliau membenarkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Zaid tersebut. Sejak saat itu, adzan telah resmi sebagai penanda masuknya waktu shalat. Menurut pendapat yang lebih sahih, sejarah adzan pertama kali disayariatkan di Kota Madinah pada tahun pertama Hijriyah.

Bilal bin Rabbah termasuk muadzin pertama dalam Islam. Setidaknya ada empat alasan mengapa Bilal dipilih Nabi menjadi muadzin, yaitu suaranya yang lantang dan merdu, menghayati kalimat-kalimat adzan, berdisiplin tinggi, dan berani. Bilal terus mengumandangkan adzan. Ketika Nabi Muhammad wafat, dia tidak bersedia lagi menjadi muadzin. Alasannya, air matanya pasti akan bercucuran manakala sampai pada kalimat ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’ sehingga membuatnya tidak kuasanya melanjutkan adzan. Namun saat Khalifah Umar bin Khattab tiba di Yerusalem, Bilal diminta untuk adzan sekali lagi. Dia menyanggupi permintaan tersebut. 

Menurut Syekh Abddullah As-Syarqawi, Nabi Muhammad pernah mengumandangkan adzan sekali. Yakni, ketika beliau dalam sebuah perjalanan. Ketika sampai pada syahadat kedua, Nabi Muhammad mengumandangkan ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’. Riwayat lain menyebut Nabi mengucapkan ‘Asyhadu anni Rasulullah'.


  • Adzan Ditakuti Setan

Nabi Muhammad SAW mengabarkan perihal setan yang tidak suka dengan suara adzan. Sampai-sampai setan berusaha untuk tidak mendengarnya dengan cara yang hina yaitu dengan mengeluarkan kentut dan suaranya. Nabi Muhmmad SAW bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻧُﻮﺩِﻯَ ﺑِﺎﻷَﺫَﺍﻥِ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻟَﻪُ ﺿُﺮَﺍﻁٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺛُﻮِّﺏَ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﺩْﺑَﺮَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗُﻀِﻰَ ﺍﻟﺘَّﺜْﻮِﻳﺐُ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻳَﺨْﻄُﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ

“Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqamah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya” (HR. Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389).


Ibnu Rajab menjelaskan,

“Hadits ini menjelaskan dalil keutamaan azan dan setan lari dari adzan sampai-sampai setan mengeluarkan kentut agar tidak mendengar adzan. Sama saja halnya ketika adzan dan iqamah (setan juga lari)” (Fahul Bari libni Rajab 5/215)


  • Sholawat diantara Adzan dan Iqamah, Bolehkah?

Azan dan iqamah adalah waktu yang memiliki keutamaan khusus. Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak (HR. Abu Dawud no. 521; Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menilai hadis ini shahih).


Selain berdoa, ada tradisi yang berkembang di tengah masyarakat nusantara, yaitu melantunkan pujian berupa shalawat antara azan dan iqamah. 


Bershalawat adalah ibadah yang sangat utama dan besar ganjarannya, terutama di antara waktu azan dan iqamah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Apabila kalian mendengar mu'adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa'at halal untuknya (HR. Muslim no. 384).


Hadis ini pun menjadi dalil tentang anjuran bershalawat kepada Rasulullah ﷺ setelah azan.  Adapun mengenai cara melantunkan shalawat menggunakan pengeras suara tidak mengurangi atau mengubah kesunnahan amalan ini. Bershalawat bersama sesungguhnya bersesuaian dengan sabda Rasulullah ﷺ:

لا يَجْتَمِعُ مَلَأٌ فَيَدْعُو بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ البعض إِلَّا أَجَابَهُمُ اللَّهُ

Tidaklah suatu perkumpulan dimana sebagian dari mereka berdoa, lalu yang lain mengaminkan, kecuali Allah akan mengabulkan doa mereka (HR. Hakim no. 5478; Imam Al-Mundziri menilai hadis ini hasan).


Ulama mazhab Syafii, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, dalam fatwanya menjelaskan bahwa muazin pada masa beliau juga mengumandangkan shalawat dengan suara keras. Amalan ini sudah dilakukan sejak zaman Raja Shalahuddin Al-Ayyubi. 

Bahkan dulu pun ada seorang sahabat bernama Hassan bin Tsabit ra. yang melantunkan syair puji-pujian di dalam masjid. Rasulullah ﷺ membolehkannya (lihat HR. Muslim no. 2485, Nasa’i no. 716, Abu Dawud no. 5013).  

Namun, perlu dicatat bagi yang ingin mengamalkannya, baik itu membaca Al-Qur’an dan bershalawat dengan keras, hendaklah ia melakukannya tanpa mengganggu kekhusyukan shalat dan konsentrasi berdoa jamaah lain. 

Jika sebagian pihak merasa terganggu, hendaklah pemimpin setempat memusyawarahkan permasalahan ini dengan warganya hingga solusi yang tepat ditemukan.


  • Bacaan Iqamah

Bagi yang membutuhkan teks asli bahasa Arab kita juga sudah siapkan lafadznya seperti di bawah ini:

اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر

لاَ إِلَهَ إِلاَّالله


Allaahu Akbar Allaahu Akbar (dibaca 1x)

Asyhadu an laa illaaha illallaah (dibaca 1x)

Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (dibaca 1x)

Hayya 'alas-shalaah (dibaca 1x)

Hayya 'alal-falaah (dibaca 1x)

Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah (dibaca 1x)

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (dibaca 1x)

Laa ilaaha illallaah (dibaca 1x)


Artinya :

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah.

Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

Marilah Sholat.

Marilah menuju kepada kejayaan.

Sesungguhnya sudah hampir mengerjakan sholat.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Tiada Tuhan melainkan Allah.

Hamba Allah
Hamba Allah <<<<<<<<< semakin yakin dan semangat >>>>>>>>> I'AM MUSLIM